There is one way to find out if a man is honest--ask him. If he says yes, you know he is crooked. — Groucho Marx
Groucho Marx (1895-1977) seorang aktor film komedi Amerika, bersama-sama saudaranya terkenal sebagai Marx Brother. Lima bersaudara sejak kecil sudah manggung di theater Broadway
-------------
Sebagai manusia biasa, tentunya kita senang bila usulan atau pendapat kita di setujui orang lain. Setuju berarti mendukung, tapi pendapat yang didukung belum tentu benar. Dan hal ini sering kali membuat kita terlena dan jatuh.
Sejarah menunjukan banyak pemimpin yang jatuh karena terlena oleh bawahannya yang ABS (asal bapak senang), Yes Man, dan penjilat-penjilat ulung. Dalam sejarah Indonesia kita bisa belajar dari kejatuhan Soekarno, Suharto, dan terakhir Gus Dur. Mereka adalah pemimpin yang sangat berkuasa pada jamannya, namun akhirnya jatuh karena orang-orang dekatnya tidak menginformasikan keadaan luar yang sebenarnya.
Pada waktu kita salah, bawahan penjilat bila ditanya pendapatnya, tetap akan mengatakan setuju dan benar, namun bawahan yang baik dan loyal akan memberikan kritik dan usulan alternatif. Bawahan yang loyal berani mengambil resiko kehilangan jabatannya untuk sebuah kebenaran. Sebaliknya bawahan penjilat hanya bermaksud melindungi jabatan dia sendiri, kalau perlu dengan mengorbankan atasan.
Tanpa disadari, kita sering kali tertipu. Salah satu kelemahan manusia yang seringkali dimanipulasi adalah kebanggaan diri, harga diri, dan kesombongan. Ego manusia, apalagi pada saat berkuasa sangat rentan dengan godaan ini.
Rasanya memang lebih enak mendengar kata-kata yang manis, walaupun itu beracun.
Kutipan dari Groucho Marx kali ini mempunyai tema sentral yaitu kejujuran. Kejujuran ada di dalam hati, bukan dalam ucapan. Kata-kata seseorang dan bahkan suatu perbuatan dapat hanya merupakan sebuah sandiwara yang secara sengaja dilakukan untuk mengesankan bahwa dia jujur, namun apa yang sebenarnya hanya dia sendirilah yang tahu.
Bukan hal yang mudah untuk mengetahui seorang jujur atau sedang berbohong, namun hal itu bukan hal yang luar biasa dan bahkan dapat dipelajari. Belajar dari pengamatan. Belajar dari pengalaman.
Salah satu cara yang saya pribadi sering terapkan untuk hal ini adalah sebagai berikut: Suatu saat bila perusahaan ada satu masalah, saya mengun-dang semua bawahan untuk diskusi mencari solusinya. Masing-masing orang yang mengelu-arkan solusi, dicatat nama dan solusinya. Sesudah terkumpul cukup alternatif solusi, saya akan mengeluarkan ide/solusi sendiri yang sebenarnya juga tidak saya setujui. Sesudah itu grup akan terbagi menjadi tiga yaitu: bawahan yang langsung berubah mengikuti solusi saya, bawahan yang diam saja takut berkomentar, dan yang menolak. Dengan beberapa kali melakukan ini, saya dengan mudah mengetahui siapa bawahan saya yang loyal dan siapa penjilat. ***
Blog ini akan memuat tulisan2 tentang management, inspirasi dan peluang usaha baik yang sudah saya geluti maupun ide dari teman pengunjung blog ini. Semoga blog ini bisa punya nilai plus buat anda sekalian. Terima kasih menyempatkan diri membaca blog sederhana ini.
BERAPA TELUR YANG ENGKAU HASILKAN?
The turtle lays thousands of eggs without anyone knowing, but when the hen lays an egg, the whole country is informed.
— Malay proverb
Penyu bertelur ribuan tanpa diketahui seorangpun, tetapi bila seekor ayam bertelur satu, seluruh desa diberitahu. Ungkapan ini adalah pepatah populer melayu yang sudah turun temurun dan anonim.
Pada saat mau bertelur, penyu malam-malam mencari suatu tempat yang sepi, mengali lubang dipantai dan menaruh telur-telurnya didalam lubang. Sekali bertelur seekor penyu dapat menghasilkan ratusan telur. Kemudian lubang itu ditutupnya kembali seperti semula, seperti tidak ada kejadian apa-apa. Sang induk berlalu tidak pernah kembali dan seterusnya menggali lubang lagi untuk mengubur telurnya yang lain.
Sebaliknya seekor ayam betina berkotek-kotek dengan hebohnya dengan suara keras-keras seakan menginformasikan bahwa dia telah sukses besar, berhasil mengeluarkan satu butir telur. Begitu senangnya bahkan kadang telur tersebut dipatuk hingga retak dan pecah.
Cerita perbandingan dua binatang tersebut secara kontras memberi kita pandangan tentang produktivitas. Orang-orang yang produktif bekerja terus menghasilkan sesuatu tanpa membanggakan diri. Sementara ada orang lain yang dengan sombong menceritakan hasil karyanya yang sebetulnya biasa-biasa saja.
Dalam sebuah perusahaan, ada karyawan yang punya tipe penyu, ada pula tipe ayam betina.
Seorang pemimpin yang bijak pasti akan mengetahui siapa stafnya yang benar-benar produktif, dan siapa yang hanya banyak bicara tapi prestasinya biasa-biasa saja.
Yang menyedihkan adalah, banyak perusahaan yang tidak punya pimpinan seperti ini. Pimpinannya banyak yang dikelabuhi oleh stafnya yang pintar berbicara dan menutup mata melihat hasil dari staf lain yang kurang mampu berbicara. Akibatnya keputusan promosi atau keputusan lain menjadi bias dan akhirnya mengecewakan staf produktif tadi. Secara jangka panjang hal ini dapat merugikan perusahaan.
Kepintaran berbicara memang penting untuk seseorang dan harus dipelajari. Kepintaran berbicara merupakan salah satu keahlian yang harus dimiliki dalam bernegosiasi. Kepintaran berbicara akan berkembang sesuai dengan pengalaman dan lingkungan pekerjaan. Hal ini penting untuk staf produktif tadi.
Tapi untuk pemimpin yang kebetulan mem-punyai bawahan seperti ini, tentunya harus mampu melihat mana staf yang benar produktif dan mana staf yang biasa-biasa saja.
Untuk menjadi seorang pemimpin yang bijak, lihatlah hasil output dari masing-masing staf, bukan dari apa yang dilaporkan, bukan dari apa yang didengar, bukan dari berita heboh yang disebarkan seekor ayam betina. Lihatlah dan hitung berapa telur yang telah mereka hasilkan.
salam,
Jan Kusnadi
— Malay proverb
Penyu bertelur ribuan tanpa diketahui seorangpun, tetapi bila seekor ayam bertelur satu, seluruh desa diberitahu. Ungkapan ini adalah pepatah populer melayu yang sudah turun temurun dan anonim.
Pada saat mau bertelur, penyu malam-malam mencari suatu tempat yang sepi, mengali lubang dipantai dan menaruh telur-telurnya didalam lubang. Sekali bertelur seekor penyu dapat menghasilkan ratusan telur. Kemudian lubang itu ditutupnya kembali seperti semula, seperti tidak ada kejadian apa-apa. Sang induk berlalu tidak pernah kembali dan seterusnya menggali lubang lagi untuk mengubur telurnya yang lain.
Sebaliknya seekor ayam betina berkotek-kotek dengan hebohnya dengan suara keras-keras seakan menginformasikan bahwa dia telah sukses besar, berhasil mengeluarkan satu butir telur. Begitu senangnya bahkan kadang telur tersebut dipatuk hingga retak dan pecah.
Cerita perbandingan dua binatang tersebut secara kontras memberi kita pandangan tentang produktivitas. Orang-orang yang produktif bekerja terus menghasilkan sesuatu tanpa membanggakan diri. Sementara ada orang lain yang dengan sombong menceritakan hasil karyanya yang sebetulnya biasa-biasa saja.
Dalam sebuah perusahaan, ada karyawan yang punya tipe penyu, ada pula tipe ayam betina.
Seorang pemimpin yang bijak pasti akan mengetahui siapa stafnya yang benar-benar produktif, dan siapa yang hanya banyak bicara tapi prestasinya biasa-biasa saja.
Yang menyedihkan adalah, banyak perusahaan yang tidak punya pimpinan seperti ini. Pimpinannya banyak yang dikelabuhi oleh stafnya yang pintar berbicara dan menutup mata melihat hasil dari staf lain yang kurang mampu berbicara. Akibatnya keputusan promosi atau keputusan lain menjadi bias dan akhirnya mengecewakan staf produktif tadi. Secara jangka panjang hal ini dapat merugikan perusahaan.
Kepintaran berbicara memang penting untuk seseorang dan harus dipelajari. Kepintaran berbicara merupakan salah satu keahlian yang harus dimiliki dalam bernegosiasi. Kepintaran berbicara akan berkembang sesuai dengan pengalaman dan lingkungan pekerjaan. Hal ini penting untuk staf produktif tadi.
Tapi untuk pemimpin yang kebetulan mem-punyai bawahan seperti ini, tentunya harus mampu melihat mana staf yang benar produktif dan mana staf yang biasa-biasa saja.
Untuk menjadi seorang pemimpin yang bijak, lihatlah hasil output dari masing-masing staf, bukan dari apa yang dilaporkan, bukan dari apa yang didengar, bukan dari berita heboh yang disebarkan seekor ayam betina. Lihatlah dan hitung berapa telur yang telah mereka hasilkan.
salam,
Jan Kusnadi
BERIKAN BUKTI BUKAN JANJI
As I grow older, I pay less attention to what men say. I just watch what they do.
— Andrew Carnegie
Andrew Carnegie (1835-1919), industrialis besar Amerika kelahiran Scotlandia yang memulai kariernya dari 14 tahun sebagai pengantar surat/telegram, dan menjadi orang terkaya di dunia.
---------
Kutipan ini merupakan salah satu kutipan favorit saya. Dulu waktu saya masih menjadi karyawan, saya bekerja di bagian akuntansi sesuai dengan latar belakang pendidikan dan keahlian saya. Di bagian ini, para rekan saya termasuk saya adalah orang yang pendiam. Oleh pimpinan saya waktu itu malah saya dikesankan sebagai seorang introvet. Setiap hari saya berhadapan dengan angka-angka dan bekerja bersama komputer. Pekerjaan saya tidak dapat dijadikan topik pembicaraan, karena menyangkut rahasia perusahaan. Pembicaraan dan interaksi dengan rekan kerja, lebih banyak di forum resmi, misalnya dalam presentasi, pembahasan laporan keuangan, membuat budget, atau di kelas-kelas pelatihan.
Walaupun saya tidak banyak bicara, namun pimpinan saya menghargai hasil pekerjaan saya. Beliau mengerti akan posisi dan peran yang saya mainkan di perusahaannya.
Suatu saat, saya dipindahkan ke kantor pusat. Posisi saya digantikan oleh orang yang dimaksudkan untuk mengisi kekurangan saya. Dia dikenal sebagai seorang yang banyak ngobrol dan ekstrovet. Dua minggu setelah dia menjabat, baik di dalam maupun di luar forum resmi, dia mengatakan ada banyak kelemahan dalam bagian yang dia tangani dan berjanji akan memperbaiki ini dan itu.
Setelah satu tahun dia menjabat, saya mendengar bahwa laporan keuangan bulanan sering terlambat, budget tidak sesuai dengan realisasi, dan cash flow yang buruk. Pembayaran ke supplier dulu dapat dilakukan secara lancar setiap minggu. Sekarang jatuh tempo pembayaran ke supplier ada yang empat bulan.
Pertama-tama saya menganggap kejadian ini sebagai suatu kebetulan belaka, dan berpendapat karena bidang akuntansi, keuangan maupun administrasi memerlukan orang yang tekun, sehingga orang yang pendiam tentunya lebih pantas di posisi ini. Kasus ini tidak berlaku untuk departemen lain. Sebagian pendapat ini memang benar, namun pendapat ini banyak juga salahnya.
Bagian pekerjaan yang memerlukan banyak bicara, biasanya adalah tenaga penjual/salesman. Tetapi bayangkan bila salesman hanya bisa bicara tetapi hasilnya tetap nol. Mana yang lebih penting untuk anda sebagai atasannya, pintar bicara atau pintar menjual?
Pernahkan anda mengalami, membeli suatu produk/jasa karena promosi yang gencar dari suatu perusahaannya atau salesmannya? Setelah membeli, kemudian mengalami kekecewaan. Saya pernah mengalaminya. Tetapi saya hanya akan membeli darinya satu kali, dan tidak akan pernah membelinya lagi. Bahkan saya juga akan memberitahukan tentang pengalaman buruk ini kepada teman-teman saya untuk tidak membeli darinya.
Oleh karena itu lebih baik berikan bukti, bukan janji. Apalagi janji-janji surga! :)
***
salam,
Jan Kusnadi
— Andrew Carnegie
Andrew Carnegie (1835-1919), industrialis besar Amerika kelahiran Scotlandia yang memulai kariernya dari 14 tahun sebagai pengantar surat/telegram, dan menjadi orang terkaya di dunia.
---------
Kutipan ini merupakan salah satu kutipan favorit saya. Dulu waktu saya masih menjadi karyawan, saya bekerja di bagian akuntansi sesuai dengan latar belakang pendidikan dan keahlian saya. Di bagian ini, para rekan saya termasuk saya adalah orang yang pendiam. Oleh pimpinan saya waktu itu malah saya dikesankan sebagai seorang introvet. Setiap hari saya berhadapan dengan angka-angka dan bekerja bersama komputer. Pekerjaan saya tidak dapat dijadikan topik pembicaraan, karena menyangkut rahasia perusahaan. Pembicaraan dan interaksi dengan rekan kerja, lebih banyak di forum resmi, misalnya dalam presentasi, pembahasan laporan keuangan, membuat budget, atau di kelas-kelas pelatihan.
Walaupun saya tidak banyak bicara, namun pimpinan saya menghargai hasil pekerjaan saya. Beliau mengerti akan posisi dan peran yang saya mainkan di perusahaannya.
Suatu saat, saya dipindahkan ke kantor pusat. Posisi saya digantikan oleh orang yang dimaksudkan untuk mengisi kekurangan saya. Dia dikenal sebagai seorang yang banyak ngobrol dan ekstrovet. Dua minggu setelah dia menjabat, baik di dalam maupun di luar forum resmi, dia mengatakan ada banyak kelemahan dalam bagian yang dia tangani dan berjanji akan memperbaiki ini dan itu.
Setelah satu tahun dia menjabat, saya mendengar bahwa laporan keuangan bulanan sering terlambat, budget tidak sesuai dengan realisasi, dan cash flow yang buruk. Pembayaran ke supplier dulu dapat dilakukan secara lancar setiap minggu. Sekarang jatuh tempo pembayaran ke supplier ada yang empat bulan.
Pertama-tama saya menganggap kejadian ini sebagai suatu kebetulan belaka, dan berpendapat karena bidang akuntansi, keuangan maupun administrasi memerlukan orang yang tekun, sehingga orang yang pendiam tentunya lebih pantas di posisi ini. Kasus ini tidak berlaku untuk departemen lain. Sebagian pendapat ini memang benar, namun pendapat ini banyak juga salahnya.
Bagian pekerjaan yang memerlukan banyak bicara, biasanya adalah tenaga penjual/salesman. Tetapi bayangkan bila salesman hanya bisa bicara tetapi hasilnya tetap nol. Mana yang lebih penting untuk anda sebagai atasannya, pintar bicara atau pintar menjual?
Pernahkan anda mengalami, membeli suatu produk/jasa karena promosi yang gencar dari suatu perusahaannya atau salesmannya? Setelah membeli, kemudian mengalami kekecewaan. Saya pernah mengalaminya. Tetapi saya hanya akan membeli darinya satu kali, dan tidak akan pernah membelinya lagi. Bahkan saya juga akan memberitahukan tentang pengalaman buruk ini kepada teman-teman saya untuk tidak membeli darinya.
Oleh karena itu lebih baik berikan bukti, bukan janji. Apalagi janji-janji surga! :)
***
salam,
Jan Kusnadi
Tiada Hari Tanpa Rapat
A conference is a gathering of important people who singly can do nothing but together can decide that nothing can be done. — Fred Allen
Fred Allen (1894-1956) nama aslinya John Florence Sullivan mulai dikenal dalam dunia hiburan sebagai pemain juggling dan akhirnya terkenal sebagai artis komedi di TV, Radio, Film.
---------------
Sebuah konferensi adalah pertemuan antara orang orang penting yang tidak dapat melakukan sesuatu sendiri, tetapi secara bersama-sama dapat memutuskan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat dikerjakan. Suatu sindiran yang dilakukan Fred Allen terhadap orang orang yang kerjanya hanya menghadiri dari satu rapat ke rapat yang lain. Suatu bentuk pengangguran yang digaji dan merupakan pemborosan tingkat tinggi.
Anda mungkin saja bisa tersenyum dengan sindiran ini. Tapi mungkin pula para bawahan dalam perusahaan anda berkata dengan kalimat yang sama.
Banyak perusahaan yang seperti ini, disadari atau tidak. Rapat dilakukan rutin bagaikan ritual yang tidak boleh dilanggar. Ada yang mingguan, dua minggu, atau bulanan. Aneka nama dan jenis rapat tersebut dibuat, namun topik yang dibahas sebagian besar sama dan itu-itu juga. Rapat yang satu dan yang lainnya menjadi bias. Semua itu diperparah lagi dengan rapat yang berlarut-larut, bahkan ada yang sampai tengah malam, tanpa menemukan suatu solusi. Kemudian topik yang sama akan dibahas lagi pada rapat yang selanjutnya. Demikian seterusnya.
Peserta rapat lama kelamaan menjadi bosan dan hadir hanya sekedar mengisi daftar hadir. Rapat menjadi tidak produktif dan hanya membuang-buang waktu.
Menyelengarakan rapat yang efektif ada jurus-jurusnya. Hal ini terutama harus dipelajari dan diterapkan oleh pemimpin rapat yang mengen-dalikan jalannya suatu rapat.
Untuk mengukur apakah suatu rapat efektif atau tidak, perlu dijawab beberapa pertanyaan sbb:
1. Apakah rapat mempunyai agenda dengan topik pembahasan dan waktu yang jelas, dan dapat berjalan sesuai rencana?
2. Apakah pembicaraan dalam rapat hanya dikuasai orang-orang tertentu. Seseorang nampak ingin menonjolkan diri sedang yang lain menjadi pesakitan?
3. Apakah keputusan-keputusan yang sudah disepakati dalam rapat dijalankan secara konsekwen?
4. Apakah rapat mengunakan alat-alat bantu seperti flipcart, proyektor, papan tulis dsb, untuk membantu konsentrasi para peserta rapat?
5. Apakah rapat lebih banyak mencari kesalahan orang daripada mencari jalan keluar atau memutuskan tindakan masa depan?
Banyak orang mengalami, mengikuti rapat-rapat yang membosankan dan terkesan membuang-buang waktu. Namun secara rutin ia tetap saja mengikuti rapat-rapat semacam itu. Pemimpin rapat juga banyak yang menyadari bahwa rapatnya tidak efektif, namun juga tetap terus melaksanakannya tanpa perubahan. Mungkin hal ini juga terjadi di perusahaan anda?. ***
Salam,
Jan Kusnadi
Fred Allen (1894-1956) nama aslinya John Florence Sullivan mulai dikenal dalam dunia hiburan sebagai pemain juggling dan akhirnya terkenal sebagai artis komedi di TV, Radio, Film.
---------------
Sebuah konferensi adalah pertemuan antara orang orang penting yang tidak dapat melakukan sesuatu sendiri, tetapi secara bersama-sama dapat memutuskan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat dikerjakan. Suatu sindiran yang dilakukan Fred Allen terhadap orang orang yang kerjanya hanya menghadiri dari satu rapat ke rapat yang lain. Suatu bentuk pengangguran yang digaji dan merupakan pemborosan tingkat tinggi.
Anda mungkin saja bisa tersenyum dengan sindiran ini. Tapi mungkin pula para bawahan dalam perusahaan anda berkata dengan kalimat yang sama.
Banyak perusahaan yang seperti ini, disadari atau tidak. Rapat dilakukan rutin bagaikan ritual yang tidak boleh dilanggar. Ada yang mingguan, dua minggu, atau bulanan. Aneka nama dan jenis rapat tersebut dibuat, namun topik yang dibahas sebagian besar sama dan itu-itu juga. Rapat yang satu dan yang lainnya menjadi bias. Semua itu diperparah lagi dengan rapat yang berlarut-larut, bahkan ada yang sampai tengah malam, tanpa menemukan suatu solusi. Kemudian topik yang sama akan dibahas lagi pada rapat yang selanjutnya. Demikian seterusnya.
Peserta rapat lama kelamaan menjadi bosan dan hadir hanya sekedar mengisi daftar hadir. Rapat menjadi tidak produktif dan hanya membuang-buang waktu.
Menyelengarakan rapat yang efektif ada jurus-jurusnya. Hal ini terutama harus dipelajari dan diterapkan oleh pemimpin rapat yang mengen-dalikan jalannya suatu rapat.
Untuk mengukur apakah suatu rapat efektif atau tidak, perlu dijawab beberapa pertanyaan sbb:
1. Apakah rapat mempunyai agenda dengan topik pembahasan dan waktu yang jelas, dan dapat berjalan sesuai rencana?
2. Apakah pembicaraan dalam rapat hanya dikuasai orang-orang tertentu. Seseorang nampak ingin menonjolkan diri sedang yang lain menjadi pesakitan?
3. Apakah keputusan-keputusan yang sudah disepakati dalam rapat dijalankan secara konsekwen?
4. Apakah rapat mengunakan alat-alat bantu seperti flipcart, proyektor, papan tulis dsb, untuk membantu konsentrasi para peserta rapat?
5. Apakah rapat lebih banyak mencari kesalahan orang daripada mencari jalan keluar atau memutuskan tindakan masa depan?
Banyak orang mengalami, mengikuti rapat-rapat yang membosankan dan terkesan membuang-buang waktu. Namun secara rutin ia tetap saja mengikuti rapat-rapat semacam itu. Pemimpin rapat juga banyak yang menyadari bahwa rapatnya tidak efektif, namun juga tetap terus melaksanakannya tanpa perubahan. Mungkin hal ini juga terjadi di perusahaan anda?. ***
Salam,
Jan Kusnadi
Salahkan resesi atau lakukan perbaikan.
Any jackass can kick down a barn, but it takes a good carpenter to build one. — Sam Rayburn
Sam Rayburn (1882-1961) selama lebih dari 48 tahun menjadi anggota U.S. House of Representatives, dan penggagas utama program “New Deal” Franklin D. Roosevelt (1932-1938), yaitu program reformasi ekonomi segala bidang setelah Resesi besar (Great Recession).
---------------
Semua keledai dapat merobohkan gudang ternak, namun hanya tukang kayu yang ahli yang mampu membangunnya. Tanpa kita sadari proses reformasi di negara tercinta ini telah berjalan lebih dari sepuluh tahun dan belum menampakan hasil yang maksimal.
Demikian pula sekian banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan, meninggalkan hutang segunung dan menjadi zombie. Sebagian besar akan menyalahkan faktor eksternal perusahaannya. Kondisi ekonomi yang terpuruk, kurs dollar yang meningkat, inflasi yang tinggi, keamanan sangat buruk dan lain-lain alasan. Sedangkan faktor yang langsung berakibat pada perusahaan adalah terus naiknya upah buruh, biaya energi BBM, listrik, air, juga terus naik, belum lagi dengan maraknya demonstrasi karyawannya.
Yang pertama adalah bahan baku naik (karena kurs dan inflasi), kemudian biaya tenaga kerja dan overhead juga naik. Akibatnya harga pokok menjadi meningkat secara signifikan. Harga jual tidak dapat dinaikkan karena sekarang bersaing dengan produk negara-negara lain, misalnya produk dari China yang harga jualnya bahkan lebih murah dari harga pokok kita.
Bagaimana cara mengatasinya? Kandang dan gudang ternak kita sudah roboh dan rusak?
Jangan menyalahkan siapa-siapa atau mencari alasan diluar perusahaan anda. Lihatlah kedalam. Periksalah kembali jajaran manajemen anda, apakah lebih banyak terdapat para “keledai” atau lebih banyak “tukang kayu” yang handal?
Tukang kayu yang handal bisa jadi berada diantara jajaran manajemen anda. Berikanlah dia pekerjaan ini, untuk membangun kembali perusahaan yang sedang terpuruk. Bila tidak ada, anda bisa mulai berpikir mencari ahlinya dari luar perusahaan. Apakah dengan merekrut tenaga permanen, kontrak atau menyewa konsultan yang kompeten.
Oya…hati-hati dalam memilih konsultan! Saya selalu ingat dengan anekdot ini. “Konsultan adalah orang yang datang melihat jam tangan anda, dan memberitahu anda jam berapa saat itu dan kemudian membawa pergi jam tangan anda tersebut sebagai bayarannya”.
Salah memilih konsultan sama juga dengan salah merekrut karyawan di jajaran manajemen. Maksud hati meminta tukang kayu membangun kandang ternak, malah yang datang adalah kerbau gila yang semakin menghancurkan seluruh ladang.
Perhatikan karyawan anda. Jangan sampai anda banyak memelihara keledai dan melepaskan/ membiarkan pergi para tukang kayu yang handal.
salam,
Jan Kusnadi
Sam Rayburn (1882-1961) selama lebih dari 48 tahun menjadi anggota U.S. House of Representatives, dan penggagas utama program “New Deal” Franklin D. Roosevelt (1932-1938), yaitu program reformasi ekonomi segala bidang setelah Resesi besar (Great Recession).
---------------
Semua keledai dapat merobohkan gudang ternak, namun hanya tukang kayu yang ahli yang mampu membangunnya. Tanpa kita sadari proses reformasi di negara tercinta ini telah berjalan lebih dari sepuluh tahun dan belum menampakan hasil yang maksimal.
Demikian pula sekian banyak perusahaan yang mengalami kebangkrutan, meninggalkan hutang segunung dan menjadi zombie. Sebagian besar akan menyalahkan faktor eksternal perusahaannya. Kondisi ekonomi yang terpuruk, kurs dollar yang meningkat, inflasi yang tinggi, keamanan sangat buruk dan lain-lain alasan. Sedangkan faktor yang langsung berakibat pada perusahaan adalah terus naiknya upah buruh, biaya energi BBM, listrik, air, juga terus naik, belum lagi dengan maraknya demonstrasi karyawannya.
Yang pertama adalah bahan baku naik (karena kurs dan inflasi), kemudian biaya tenaga kerja dan overhead juga naik. Akibatnya harga pokok menjadi meningkat secara signifikan. Harga jual tidak dapat dinaikkan karena sekarang bersaing dengan produk negara-negara lain, misalnya produk dari China yang harga jualnya bahkan lebih murah dari harga pokok kita.
Bagaimana cara mengatasinya? Kandang dan gudang ternak kita sudah roboh dan rusak?
Jangan menyalahkan siapa-siapa atau mencari alasan diluar perusahaan anda. Lihatlah kedalam. Periksalah kembali jajaran manajemen anda, apakah lebih banyak terdapat para “keledai” atau lebih banyak “tukang kayu” yang handal?
Tukang kayu yang handal bisa jadi berada diantara jajaran manajemen anda. Berikanlah dia pekerjaan ini, untuk membangun kembali perusahaan yang sedang terpuruk. Bila tidak ada, anda bisa mulai berpikir mencari ahlinya dari luar perusahaan. Apakah dengan merekrut tenaga permanen, kontrak atau menyewa konsultan yang kompeten.
Oya…hati-hati dalam memilih konsultan! Saya selalu ingat dengan anekdot ini. “Konsultan adalah orang yang datang melihat jam tangan anda, dan memberitahu anda jam berapa saat itu dan kemudian membawa pergi jam tangan anda tersebut sebagai bayarannya”.
Salah memilih konsultan sama juga dengan salah merekrut karyawan di jajaran manajemen. Maksud hati meminta tukang kayu membangun kandang ternak, malah yang datang adalah kerbau gila yang semakin menghancurkan seluruh ladang.
Perhatikan karyawan anda. Jangan sampai anda banyak memelihara keledai dan melepaskan/ membiarkan pergi para tukang kayu yang handal.
salam,
Jan Kusnadi
Menang bukan menghancurkan lawan, tetapi sebaliknya menjadikan lawan menjadi sahabat/ mitra
.
Serious sport has nothing to do with fair play. It is bound up with hatred, jealousy, boastfulness, disregard of all rules, and sadistic pleasure in witnessing violence: in other words it is war minus the shooting. — George Orwell
George Orwell seorang novelis Inggris bernama asli Eric Arthur Blair (1903-1950). Lahir di India dan hidup dalam kemiskinan sampai umur tiga puluhan sebelum menjadi pengarang terkenal.
-----------------------
Olah raga di jaman ini sudah menjadi suatu industri bisnis yang sangat menggiurkan. Lihatlah bagaimana penyelengaraan olimpiade multi cabang, atau pertandingan satu cabang misalnya world cup sepakbola, Champion Club di tingkat regional maupun NBA basket tingkat nasional di AS. Semua menyerap sponsor jutaan bahkan milyaran dollar. Ratusan produk dan perusahaan terlibat didalam setiap event yang diadakan. Menjadi juara merupakan prestise suatu negara. Para olahragawannyapun menjadi celebritis dan kaya raya.
Tanpa bermaksud melecehkan sportivitas, olahraga baik jaman George Orwell sampai saat ini tidak berubah, tetap menimbulkan cemburu, sakit hati dan kesombongan. Unsur ini ada karena adanya persaingan. Ada yang menang dan ada yang kalah. Setuju atau tidak olahraga merupakan suatu “perang” tanpa senjata.
Olahraga sudah masuk sebagai suatu cabang dalam dunia usaha, sebaliknya dunia usaha juga memiliki ciri yang sama dengan olahraga.
Di dalam dunia usaha/bisnis, persaingan begitu ketat, ada yang melakukan fair play, ada yang berbuat curang. Sakit hati, iri hati, saling menjatuhkan dan saling menghancurkan. Segala macam cara dilakukan untuk menang. Siapa yang menang menjadi kaya raya, siapa yang kalah masuk comberan. Inilah perang.
Dunia bisnis sama seperti perang. Itulah sebabnya buku seni perang Sun Tzu menjadi bacaan wajib para mahasiswa MBA dan pengusaha.
Perang antara pengusaha modal besar dan yang bermodal pas-pasan. Perang antara yang pintar dan bodoh. Perang antara yang cepat dan lambat. Siapakah pemenangnya?
Semua orang tentunya ingin jadi pemenang. Betapa indahnya menjadi pemenang. Harga diri melambung tinggi. Kesombongan menyertai. Bagaimana dengan pihak yang kalah? “Emang Gua Pikirin!”
Kemenangan dapat membuat seorang menjadi lengah, dan secara jangka panjang kadang bisa berbalik menjadi kekalahan yang parah. “Lebih baik kalah dalam satu pertempuran tetapi menang dalam perang”, nasehat Sun Tzu.
Hal ini pula yang menyebabkan terjadinya krisis ekonomi global. Semua ingin menang tanpa memperdulikan pihak lain. Amerika sebagai negara besar super power merasa bisa menang dengan menekan negara kecil. Akhirnya sekarang apa yang terjadi?
Alangkah baiknya bila kemenangan itu dicapai bersama-sama dengan banyak pihak. Istilahnya Win-Win solution. Tidak ada pihak yang kalah disini. Semuanya adalah pemenang dan senang. Semua pihak mengalami kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan.
Untungnya hal ini juga disadari oleh negara besar atau perusahaan besar. Mereka harus mengangkat lingkungan sekitarnya menjadi lebih besar, lebih bagus, lebih bertumbuh berkesinambungan, karena ini merupakan fondasi dasarnya. Dalam krisis ini, semua pihak harus bekerja sama untuk keuntungan bersama.
Alam sebenarnya juga memberikan contoh tentang hal ini. Amatilah burung kecil yang memakan kutu di punggung badak. Sang burung kenyang, sang badak bebas dari penyakit. ***
salam.
Serious sport has nothing to do with fair play. It is bound up with hatred, jealousy, boastfulness, disregard of all rules, and sadistic pleasure in witnessing violence: in other words it is war minus the shooting. — George Orwell
George Orwell seorang novelis Inggris bernama asli Eric Arthur Blair (1903-1950). Lahir di India dan hidup dalam kemiskinan sampai umur tiga puluhan sebelum menjadi pengarang terkenal.
-----------------------
Olah raga di jaman ini sudah menjadi suatu industri bisnis yang sangat menggiurkan. Lihatlah bagaimana penyelengaraan olimpiade multi cabang, atau pertandingan satu cabang misalnya world cup sepakbola, Champion Club di tingkat regional maupun NBA basket tingkat nasional di AS. Semua menyerap sponsor jutaan bahkan milyaran dollar. Ratusan produk dan perusahaan terlibat didalam setiap event yang diadakan. Menjadi juara merupakan prestise suatu negara. Para olahragawannyapun menjadi celebritis dan kaya raya.
Tanpa bermaksud melecehkan sportivitas, olahraga baik jaman George Orwell sampai saat ini tidak berubah, tetap menimbulkan cemburu, sakit hati dan kesombongan. Unsur ini ada karena adanya persaingan. Ada yang menang dan ada yang kalah. Setuju atau tidak olahraga merupakan suatu “perang” tanpa senjata.
Olahraga sudah masuk sebagai suatu cabang dalam dunia usaha, sebaliknya dunia usaha juga memiliki ciri yang sama dengan olahraga.
Di dalam dunia usaha/bisnis, persaingan begitu ketat, ada yang melakukan fair play, ada yang berbuat curang. Sakit hati, iri hati, saling menjatuhkan dan saling menghancurkan. Segala macam cara dilakukan untuk menang. Siapa yang menang menjadi kaya raya, siapa yang kalah masuk comberan. Inilah perang.
Dunia bisnis sama seperti perang. Itulah sebabnya buku seni perang Sun Tzu menjadi bacaan wajib para mahasiswa MBA dan pengusaha.
Perang antara pengusaha modal besar dan yang bermodal pas-pasan. Perang antara yang pintar dan bodoh. Perang antara yang cepat dan lambat. Siapakah pemenangnya?
Semua orang tentunya ingin jadi pemenang. Betapa indahnya menjadi pemenang. Harga diri melambung tinggi. Kesombongan menyertai. Bagaimana dengan pihak yang kalah? “Emang Gua Pikirin!”
Kemenangan dapat membuat seorang menjadi lengah, dan secara jangka panjang kadang bisa berbalik menjadi kekalahan yang parah. “Lebih baik kalah dalam satu pertempuran tetapi menang dalam perang”, nasehat Sun Tzu.
Hal ini pula yang menyebabkan terjadinya krisis ekonomi global. Semua ingin menang tanpa memperdulikan pihak lain. Amerika sebagai negara besar super power merasa bisa menang dengan menekan negara kecil. Akhirnya sekarang apa yang terjadi?
Alangkah baiknya bila kemenangan itu dicapai bersama-sama dengan banyak pihak. Istilahnya Win-Win solution. Tidak ada pihak yang kalah disini. Semuanya adalah pemenang dan senang. Semua pihak mengalami kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan.
Untungnya hal ini juga disadari oleh negara besar atau perusahaan besar. Mereka harus mengangkat lingkungan sekitarnya menjadi lebih besar, lebih bagus, lebih bertumbuh berkesinambungan, karena ini merupakan fondasi dasarnya. Dalam krisis ini, semua pihak harus bekerja sama untuk keuntungan bersama.
Alam sebenarnya juga memberikan contoh tentang hal ini. Amatilah burung kecil yang memakan kutu di punggung badak. Sang burung kenyang, sang badak bebas dari penyakit. ***
salam.
Team Work - berbagi tugas juga sebuah leadership
"Not the cry, but the flight of the wild duck, leads the flock to fly and follow."
-----Chinese Proverb
Pernah lihat atau memperhatikan bagaimana sekawanan angsa terbang? Mereka biasanya akan membentuk formasi yang sangat menakjubkan dan biasanya dalam bentuk huruf “V” dengan ujungnya menghadap depan “ < ”
Saya pernah dikirimi file power point tentang angsa terbang ini dan saya yakin file ini juga pernah mampir dalam inbox email anda.
Sekedar merefresh kembali arti dari formasi terbang angsa tersebut, mereka secara naluri membentuk V shape tentunya untuk memini-malisasi terpaan angin, sehingga mereka bisa lebih menghemat tenaga dan dapat menempuh jarak yang jauh. Angsa terdepan terbang memimpin rekan-rekannya dan menghadapi terpaan angin yang paling kencang. Teman-temannya di samping dan dibelakang menghadapi terpaan angin relatif lebih kecil. Bahkan beberapa angsa yang terbang dalam lindungan formasi tidak perlu capek-capek mengepakan sayapnya.
Beberapa waktu setelah angsa terdepan memimpin, berikutnya dia akan diganti oleh angsa kedua, dan begitu seterusnya. Semua angsa memperoleh giliran terbang di depan, sementara angsa yang lain bisa “istirahat” sejenak. Setiap angsa akan mendapat giliran menjadi pengikut sekaligus menjadi pimpinan.
Pernahkan anda melakukan survey, berapa kilometer mereka terbang saat bermigrasi?
Buat saya, ini adalah inspirasi yang benar-benar mengagumkan untuk leadership dan team work.
Kalau melihat perusahaan-perusahaan besar baik di Indonesia maupun di negara lain, yang mempunyai sejarah panjang, bahkan sudah ada yang ratusan tahun, tentunya tanpa disadari model kepemimpinan gaya angsa ini diterapkan.
Pada perusahaan keluargapun, sang ayah akan melatih anaknya mulai dari jabatan staff biasa. Bila tiba waktunya maka sang anak akan mengambil alih pimpinan sesuai dengan kemampuannya agar perusahaan yang dikemudikan tetap dapat terbang melaju secara lancar.
Sebaliknya, saya juga yakin dalam setiap perusahaan ada juga beberapa pemilik perusahaan, maupun manajer professional non keluarga yang takut memberikan ilmunya pada bawahannya. Sebisa mungkin dia akan menjaga agar posisinya tidak ada yang mengambil alih.
Berapa lama manajer model ini mampu bertahan? Lama kelamaan dia sendiri yang akan kehabisan tenaga. Kemudian efeknya adalah departemen atau perusahaan yang dia pimpin juga akan hancur bukan? Istilah anak abg sekarang adalah “sepuluh kali sepuluh….capekk dehh!” :)
Mudah-mudahan anda tidak termasuk dalam kategori ini, tapi sebaliknya pemimpin yang menerapkan filosofi angsa. ***
-----Chinese Proverb
Pernah lihat atau memperhatikan bagaimana sekawanan angsa terbang? Mereka biasanya akan membentuk formasi yang sangat menakjubkan dan biasanya dalam bentuk huruf “V” dengan ujungnya menghadap depan “ < ”
Saya pernah dikirimi file power point tentang angsa terbang ini dan saya yakin file ini juga pernah mampir dalam inbox email anda.
Sekedar merefresh kembali arti dari formasi terbang angsa tersebut, mereka secara naluri membentuk V shape tentunya untuk memini-malisasi terpaan angin, sehingga mereka bisa lebih menghemat tenaga dan dapat menempuh jarak yang jauh. Angsa terdepan terbang memimpin rekan-rekannya dan menghadapi terpaan angin yang paling kencang. Teman-temannya di samping dan dibelakang menghadapi terpaan angin relatif lebih kecil. Bahkan beberapa angsa yang terbang dalam lindungan formasi tidak perlu capek-capek mengepakan sayapnya.
Beberapa waktu setelah angsa terdepan memimpin, berikutnya dia akan diganti oleh angsa kedua, dan begitu seterusnya. Semua angsa memperoleh giliran terbang di depan, sementara angsa yang lain bisa “istirahat” sejenak. Setiap angsa akan mendapat giliran menjadi pengikut sekaligus menjadi pimpinan.
Pernahkan anda melakukan survey, berapa kilometer mereka terbang saat bermigrasi?
Buat saya, ini adalah inspirasi yang benar-benar mengagumkan untuk leadership dan team work.
Kalau melihat perusahaan-perusahaan besar baik di Indonesia maupun di negara lain, yang mempunyai sejarah panjang, bahkan sudah ada yang ratusan tahun, tentunya tanpa disadari model kepemimpinan gaya angsa ini diterapkan.
Pada perusahaan keluargapun, sang ayah akan melatih anaknya mulai dari jabatan staff biasa. Bila tiba waktunya maka sang anak akan mengambil alih pimpinan sesuai dengan kemampuannya agar perusahaan yang dikemudikan tetap dapat terbang melaju secara lancar.
Sebaliknya, saya juga yakin dalam setiap perusahaan ada juga beberapa pemilik perusahaan, maupun manajer professional non keluarga yang takut memberikan ilmunya pada bawahannya. Sebisa mungkin dia akan menjaga agar posisinya tidak ada yang mengambil alih.
Berapa lama manajer model ini mampu bertahan? Lama kelamaan dia sendiri yang akan kehabisan tenaga. Kemudian efeknya adalah departemen atau perusahaan yang dia pimpin juga akan hancur bukan? Istilah anak abg sekarang adalah “sepuluh kali sepuluh….capekk dehh!” :)
Mudah-mudahan anda tidak termasuk dalam kategori ini, tapi sebaliknya pemimpin yang menerapkan filosofi angsa. ***
Mengambil alih tanggung jawab
There’s just three things I’d ever say:
If anything goes bad, I did it.
If anything goes semi-good, then we did it.
If anything goes real good, then you did it.
That’s all it takes to get people to win football games for you. — Paul (Bear) Bryant
Paul William Bryant (1913-1983) pelatih American Football yang sepanjang 38 tahun kariernya memiliki rekor sebagai pelatih yang memenangkan pertandingan terbanyak sampai saat ini.
-----
Inspirasi apa yang anda peroleh hari ini dengan membaca peryataan diatas? Pemimpin yang bertanggung jawab akan memperoleh dukungan dari bawahan, dan mereka akan dengan suka rela bertanding (baca:bekerja) untuk anda. Untuk kemenangan anda.
Permainan american football merupakan permainan yang paling digemari dan dimainkan oleh masyarakat Amerika, selain basket. Mulai dari sekolah menengah atas dan hampir semua universitas memiliki klub football. Yang menjadi pemenang dalam setiap liga kompetisi akan memperoleh kebanggaan dan gengsi tersendiri. Bayangkan tingkat persaingan antar masing-masing klub disana. Di Indonesia, kita lebih mengenal basket NBA. Persaingannya kira-kira sekelas NBA dan bahkan lebih keras dalam beberapa faktor.
Menjadi pemimpin yang sukses ditengah persaingan yang semakin ketat, yang tidak lagi mengenal batas teritori wilayah, bukan pekerjaaan mudah. Salah satu kepandaian yang harus dimiliki adalah kemampuan mempercayai orang lain. Dalam buku teori, dikatakan: Manajemen adalah proses mencapai sesuatu tujuan melalui orang lain.
Pemimpin menjelaskan visi dan misinya kepada bawahannya. Bawahan menerjemahkan secara operasional dan melaksanakannya.
Paul Bryant menerapkan ini untuk para pemainnya. Dia menjelaskan misinya yaitu meraih kemenangan. Dia mempercayakan hal ini kepada para pemainnya. Para pemain mempercayainya dan tidak pernah takut dalam melaksanakan tugas-tugas untuk mencapai misi tersebut, karena beliau mengambil alih semua tanggung jawab. Sebaliknya bila misi tercapai, para pemainlah yang mendapat rewardnya.
Mengagumkan! Dimanakah kita bisa menemui pemimpin seperti ini? Bila di perusahaan anda, ada pemimpin demikian, maka berbahagialah, karena perusahaan anda pastilah sudah menjadi suatu perusahaan yang terbaik, paling tidak merupakan perusahaan ranking teratas dalam bidang industri sejenis. Lihatlah produktivitas yang dihasilkan para karyawannya.
Kemudian bayangkan bila suatu perusahaan memiliki pimpinan dengan tipe sebaliknya. Dia selalu menyalahkan bawahannya atau orang lain, bila terjadi kegagalan. Bila terjadi keberhasilan, dia akan menjadi orang pertama yang maju ke muka mengambil penghargaan. Produktivitas perusahaan ini pasti sedang menuju titik nol. Yang terjadi adalah para karyawan bekerja seadanya, dan hanya memperhatikan waktu istirahat dan pulang. Bekerja tanpa motivasi. Akhirnya yang tinggal di perusahaan ini hanyalah para zombie, dan ditinggalkan tenaga-tenaga handalnya. Bila anda seorang pemimpin, inikah cita-cita anda?
If anything goes bad, I did it.
If anything goes semi-good, then we did it.
If anything goes real good, then you did it.
That’s all it takes to get people to win football games for you. — Paul (Bear) Bryant
Paul William Bryant (1913-1983) pelatih American Football yang sepanjang 38 tahun kariernya memiliki rekor sebagai pelatih yang memenangkan pertandingan terbanyak sampai saat ini.
-----
Inspirasi apa yang anda peroleh hari ini dengan membaca peryataan diatas? Pemimpin yang bertanggung jawab akan memperoleh dukungan dari bawahan, dan mereka akan dengan suka rela bertanding (baca:bekerja) untuk anda. Untuk kemenangan anda.
Permainan american football merupakan permainan yang paling digemari dan dimainkan oleh masyarakat Amerika, selain basket. Mulai dari sekolah menengah atas dan hampir semua universitas memiliki klub football. Yang menjadi pemenang dalam setiap liga kompetisi akan memperoleh kebanggaan dan gengsi tersendiri. Bayangkan tingkat persaingan antar masing-masing klub disana. Di Indonesia, kita lebih mengenal basket NBA. Persaingannya kira-kira sekelas NBA dan bahkan lebih keras dalam beberapa faktor.
Menjadi pemimpin yang sukses ditengah persaingan yang semakin ketat, yang tidak lagi mengenal batas teritori wilayah, bukan pekerjaaan mudah. Salah satu kepandaian yang harus dimiliki adalah kemampuan mempercayai orang lain. Dalam buku teori, dikatakan: Manajemen adalah proses mencapai sesuatu tujuan melalui orang lain.
Pemimpin menjelaskan visi dan misinya kepada bawahannya. Bawahan menerjemahkan secara operasional dan melaksanakannya.
Paul Bryant menerapkan ini untuk para pemainnya. Dia menjelaskan misinya yaitu meraih kemenangan. Dia mempercayakan hal ini kepada para pemainnya. Para pemain mempercayainya dan tidak pernah takut dalam melaksanakan tugas-tugas untuk mencapai misi tersebut, karena beliau mengambil alih semua tanggung jawab. Sebaliknya bila misi tercapai, para pemainlah yang mendapat rewardnya.
Mengagumkan! Dimanakah kita bisa menemui pemimpin seperti ini? Bila di perusahaan anda, ada pemimpin demikian, maka berbahagialah, karena perusahaan anda pastilah sudah menjadi suatu perusahaan yang terbaik, paling tidak merupakan perusahaan ranking teratas dalam bidang industri sejenis. Lihatlah produktivitas yang dihasilkan para karyawannya.
Kemudian bayangkan bila suatu perusahaan memiliki pimpinan dengan tipe sebaliknya. Dia selalu menyalahkan bawahannya atau orang lain, bila terjadi kegagalan. Bila terjadi keberhasilan, dia akan menjadi orang pertama yang maju ke muka mengambil penghargaan. Produktivitas perusahaan ini pasti sedang menuju titik nol. Yang terjadi adalah para karyawan bekerja seadanya, dan hanya memperhatikan waktu istirahat dan pulang. Bekerja tanpa motivasi. Akhirnya yang tinggal di perusahaan ini hanyalah para zombie, dan ditinggalkan tenaga-tenaga handalnya. Bila anda seorang pemimpin, inikah cita-cita anda?
KEPUTUSAN
Decision is a sharp knife that cuts clean and straight; indecision, a dull one that hacks and tears and leaves ragged edges behind it. — Gordon Graham
Gordon Graham seorang veteran polisi yang telah mengabdi 26 tahun di California, AS. Setelah pensiun, beliau menjadi pembicara publik, pengacara dan pelatih armada pemadam kebakaran.
-----------
Keputusan adalah sebuah pisau tajam yang memotong secara bersih dan lurus, sebaliknya ketidakmampuan mengambil keputusan, bagaikan sebuah pisau tumpul yang mencabik dan merobek sesuatu dan meninggalkannya compang camping.
Sebuah pernyataan yang mempunyai kesan tegas dan jelas. Begitulah sebuah keputusan harus dibuat. Tapi tidak semua orang (baca: pimpinan) mampu melakukannya.
Beberapa pimpinan sangat “berhati-hati” dalam mengambil keputusan. Berhati-hati bukan karena masih ada data atau informasi lain yang ingin dikumpulkan agar suatu keputusan dapat tepat dan benar, tetapi lebih karena ingin melepaskan tanggung jawab. Kalau bisa jangan mengambil keputusan, dan biarkan orang lain yang mengambil keputusan, atau biarkan waktu yang akan menyelesaikannya. Jadi bila terjadi kegagalan/kesalahan nantinya, saya bisa cuci tangan. Kalau ternyata kemudian keputusan yang dibuat orang lain tersebut membuahkan keberhasilan, berarti tindakan saya benar, yaitu tidak membuat keputusan dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk membuat keputusan. Nothing to lose. Bukankah ada yang mengatakan tidak membuat keputusan adalah sebuah keputusan juga. Hebat bukan?
Amati sekeliling anda. Apakah ada jenis pemimpin ini di sekitar anda?
Biasanya tipe pimpinan ini banyak ada di dalam organisasi yang sudah berumur cukup tua, atau dalam organisasi besar mapan yang telah melewati masa-masa pertumbuhannya dan sedang menuju masa penurunan. Mengapa? Karena jenis pimpinan ini tidak akan mampu bertahan pada perusahaan yang sedang tumbuh.
Pada perusahaan yang sedang tumbuh, semua orang dalam organisasi harus bergerak cepat dan tepat. Yang diperlukan adalah para pemimpin yang berani mengambil resiko dan dapat mengambil keputusan secara cepat. Tentunya dengan mempertimbangkan data dan informasi yang tersedia. Bila tidak cepat, maka peluang bisnis yang ada akan disambar oleh perusahaan kompetitor lain.
Oleh karena itu, bila anda menemui ada jenis pimpinan yang sulit/ tidak mau mengambil keputusan, pimpinan yang pro kemapanan, membiarkan status quo, maka bersiap-siaplah. Perusahaan anda sedang menuju pada kebangkrutan!
Tidak ada yang tidak berubah di dalam dunia ini. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Perusahaan yang lambat mengikuti perubahan dengan sendirinya akan ketinggalan dan tergilas.
Mulailah membuat keputusan. Jangan takut gagal atau salah. Di jaman krisis atau booming, di jaman bullish atau bearish. Buatlah keputusan, jangan menunggu. Lebih baik salah jalan, anda masih bisa putar balik masuk ke jalan yang benar, dari pada tidak pernah jalan sama sekali.
( yanky )
Gordon Graham seorang veteran polisi yang telah mengabdi 26 tahun di California, AS. Setelah pensiun, beliau menjadi pembicara publik, pengacara dan pelatih armada pemadam kebakaran.
-----------
Keputusan adalah sebuah pisau tajam yang memotong secara bersih dan lurus, sebaliknya ketidakmampuan mengambil keputusan, bagaikan sebuah pisau tumpul yang mencabik dan merobek sesuatu dan meninggalkannya compang camping.
Sebuah pernyataan yang mempunyai kesan tegas dan jelas. Begitulah sebuah keputusan harus dibuat. Tapi tidak semua orang (baca: pimpinan) mampu melakukannya.
Beberapa pimpinan sangat “berhati-hati” dalam mengambil keputusan. Berhati-hati bukan karena masih ada data atau informasi lain yang ingin dikumpulkan agar suatu keputusan dapat tepat dan benar, tetapi lebih karena ingin melepaskan tanggung jawab. Kalau bisa jangan mengambil keputusan, dan biarkan orang lain yang mengambil keputusan, atau biarkan waktu yang akan menyelesaikannya. Jadi bila terjadi kegagalan/kesalahan nantinya, saya bisa cuci tangan. Kalau ternyata kemudian keputusan yang dibuat orang lain tersebut membuahkan keberhasilan, berarti tindakan saya benar, yaitu tidak membuat keputusan dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk membuat keputusan. Nothing to lose. Bukankah ada yang mengatakan tidak membuat keputusan adalah sebuah keputusan juga. Hebat bukan?
Amati sekeliling anda. Apakah ada jenis pemimpin ini di sekitar anda?
Biasanya tipe pimpinan ini banyak ada di dalam organisasi yang sudah berumur cukup tua, atau dalam organisasi besar mapan yang telah melewati masa-masa pertumbuhannya dan sedang menuju masa penurunan. Mengapa? Karena jenis pimpinan ini tidak akan mampu bertahan pada perusahaan yang sedang tumbuh.
Pada perusahaan yang sedang tumbuh, semua orang dalam organisasi harus bergerak cepat dan tepat. Yang diperlukan adalah para pemimpin yang berani mengambil resiko dan dapat mengambil keputusan secara cepat. Tentunya dengan mempertimbangkan data dan informasi yang tersedia. Bila tidak cepat, maka peluang bisnis yang ada akan disambar oleh perusahaan kompetitor lain.
Oleh karena itu, bila anda menemui ada jenis pimpinan yang sulit/ tidak mau mengambil keputusan, pimpinan yang pro kemapanan, membiarkan status quo, maka bersiap-siaplah. Perusahaan anda sedang menuju pada kebangkrutan!
Tidak ada yang tidak berubah di dalam dunia ini. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Perusahaan yang lambat mengikuti perubahan dengan sendirinya akan ketinggalan dan tergilas.
Mulailah membuat keputusan. Jangan takut gagal atau salah. Di jaman krisis atau booming, di jaman bullish atau bearish. Buatlah keputusan, jangan menunggu. Lebih baik salah jalan, anda masih bisa putar balik masuk ke jalan yang benar, dari pada tidak pernah jalan sama sekali.
( yanky )
3 Tipe Pemimpin
A leader is best, when people barely know he exists. Not so good, when people obey and acclaim him. Worse when they despise him. But of a good leader, who talks little, when his work is done, his aim fulfilled. They will say "We did it ourselves." Lao Tse
Lao Tse merupakan salah satu guru dari Khong Hu Cu. Ajaran tokoh besar orang Tionghoa ini disebut Konfusianisme di Barat, sedang di Tiongkok disebut “Ru Jiao” (ajaran kaum terpelajar).
Konfusianisme merupakan perpadauan ajaran antara Lao
Tse dan Khong Hu Cu.
Seorang pemimpin dikatakan terbaik bila hampir tidak ada orang yang mengetahuinya. Tidak begitu baik bila orang menurut dan bertepuk tangan untuknya. Lebih buruk lagi bila mereka mengabaikannya. Tetapi dari seorang pemimpin yang baik, sedikit bicara, waktu pekerjaannya selesai, tujuannya telah tercapai. Orang lain akan mengaku “kita telah melakukannya sendiri”.
Kalimat-kalimat diatas sungguh sangat indah dan mengandung makna yang dalam. Saya membacanya pelan-pelan dan berulang-ulang. Perlu ketenangan dan pikiran jernih untuk dapat menyerap dan mengerti maknanya.
Kontradiksi sekali dengan apa yang kita lihat sehari-hari, kita banyak mengenal tokoh/ pemimpin besar. Mereka mempunyai pengikut setia yang banyak, kemana-mana mendapat sambutan luar biasa. Beberapa diantaranya adalah pemimpin, dimana tidak ada orang yang berani menentang perintahnya. Tetapi menurut Lao Tse, tipe ini bukanlah tipe pemimpin yang terbaik. Pemimpin terbaik justru adalah pemimpin yang hanya diketahui sedikit orang, yang mampu mengendalikan orang tanpa kelihatan, dan orang yang dikendalikan tidak pernah merasa dikendalikan. Dari sekian banyak para pemimpin besar yang kita tahu, berapa yang telah mencapai tingkat sebagai pemimpin terbaik?
Kategori ketiga adalah pemimpin yang buruk, yaitu bila orang-orang mengabaikannya, tidak menuruti perintahnya, atau memandang rendah dirinya. Inilah contoh pemimpin yang gagal.
Berbagai macam alasan dapat menyebabkan seorang pemimpin ditinggalkan pengikutnya. Mungkin dia tidak memiliki kekuasaan formal lagi, karena dulu orang menghormati kedudukan atau jabatannya saja. Dia hanyalah seorang pimpinan tapi bukan pemimpin.
Bila sang pimpinan masih mempunyai jabatan/ kekuasaan formal, tetapi perintahnya tidak dituruti bawahannya, itulah yang dimaksudkan sebagai seorang pemimpin yang buruk.
Kehilangan kepercayaan dari bawahan, banyak melakukan kebohongan, sering membuat janji-janji palsu, tidak kompeten, tidak adil, dan masih banyak lagi faktor-faktor lain dapat menyebab-kan dan menjadi bibit seorang pimpinan tidak ditaati oleh bawahannya.
Itulah tiga kategori pemimpin menurut Lao Tse, yaitu 1. Pemimpin yang sedikit dikenal, tetapi tujuannya selalu tercapai. 2. Pemimpin yang diikuti dan dipuja banyak orang 3. Pemimpin yang diabaikan dan dipandang rendah orang.
Lihatlah kedalam diri anda sendiri! Apakah saya seorang pemimpin? Termasuk dalam kategori pemimpin yang manakah saya? ***
Lao Tse merupakan salah satu guru dari Khong Hu Cu. Ajaran tokoh besar orang Tionghoa ini disebut Konfusianisme di Barat, sedang di Tiongkok disebut “Ru Jiao” (ajaran kaum terpelajar).
Konfusianisme merupakan perpadauan ajaran antara Lao
Tse dan Khong Hu Cu.
Seorang pemimpin dikatakan terbaik bila hampir tidak ada orang yang mengetahuinya. Tidak begitu baik bila orang menurut dan bertepuk tangan untuknya. Lebih buruk lagi bila mereka mengabaikannya. Tetapi dari seorang pemimpin yang baik, sedikit bicara, waktu pekerjaannya selesai, tujuannya telah tercapai. Orang lain akan mengaku “kita telah melakukannya sendiri”.
Kalimat-kalimat diatas sungguh sangat indah dan mengandung makna yang dalam. Saya membacanya pelan-pelan dan berulang-ulang. Perlu ketenangan dan pikiran jernih untuk dapat menyerap dan mengerti maknanya.
Kontradiksi sekali dengan apa yang kita lihat sehari-hari, kita banyak mengenal tokoh/ pemimpin besar. Mereka mempunyai pengikut setia yang banyak, kemana-mana mendapat sambutan luar biasa. Beberapa diantaranya adalah pemimpin, dimana tidak ada orang yang berani menentang perintahnya. Tetapi menurut Lao Tse, tipe ini bukanlah tipe pemimpin yang terbaik. Pemimpin terbaik justru adalah pemimpin yang hanya diketahui sedikit orang, yang mampu mengendalikan orang tanpa kelihatan, dan orang yang dikendalikan tidak pernah merasa dikendalikan. Dari sekian banyak para pemimpin besar yang kita tahu, berapa yang telah mencapai tingkat sebagai pemimpin terbaik?
Kategori ketiga adalah pemimpin yang buruk, yaitu bila orang-orang mengabaikannya, tidak menuruti perintahnya, atau memandang rendah dirinya. Inilah contoh pemimpin yang gagal.
Berbagai macam alasan dapat menyebabkan seorang pemimpin ditinggalkan pengikutnya. Mungkin dia tidak memiliki kekuasaan formal lagi, karena dulu orang menghormati kedudukan atau jabatannya saja. Dia hanyalah seorang pimpinan tapi bukan pemimpin.
Bila sang pimpinan masih mempunyai jabatan/ kekuasaan formal, tetapi perintahnya tidak dituruti bawahannya, itulah yang dimaksudkan sebagai seorang pemimpin yang buruk.
Kehilangan kepercayaan dari bawahan, banyak melakukan kebohongan, sering membuat janji-janji palsu, tidak kompeten, tidak adil, dan masih banyak lagi faktor-faktor lain dapat menyebab-kan dan menjadi bibit seorang pimpinan tidak ditaati oleh bawahannya.
Itulah tiga kategori pemimpin menurut Lao Tse, yaitu 1. Pemimpin yang sedikit dikenal, tetapi tujuannya selalu tercapai. 2. Pemimpin yang diikuti dan dipuja banyak orang 3. Pemimpin yang diabaikan dan dipandang rendah orang.
Lihatlah kedalam diri anda sendiri! Apakah saya seorang pemimpin? Termasuk dalam kategori pemimpin yang manakah saya? ***
It is an immutable law in business that words are words, explanations are explanations, promises are promises — but only performance is reality.Harold S. Green
Jaringan Hotel Sheraton menggunakan namanya sebagai penghargaan tertinggi
untuk para pemimpin terbaiknya yaitu “Harold S.Green Award”.
“Ucapan adalah ucapan, penjelasan adalah penjelasan, janji adalah janji, namun hanya hasil tindakan yang merupakan kenyataan”.
Kutipan ini begitu terkenalnya sehingga banyak sekolah bisnis di Amerika Serikat yang mengunakannya dalam salah satu mata kuliahnya, terutama tentang kepemimpinan.
Dalam mengarungi samudera kehidupan ini, pernahkan kita menghitung berapa kata yang telah terucap dalam satu hari, satu minggu, satu bulan dan seterusnya? Saya sangat yakin, kita tidak pernah menghitungnya. Kalaupun kita ingin menghitungnya, mungkin tidak sanggup. Lagi pula untuk apa?
Rangkaian kata-kata yang menjadi kalimat-kalimat juga tidak terhitung lagi sudah berapa yang pernah kita ucapkan. Dalam pembica-raaan pribadi, dengan teman, dengan orang tua, dengan anak-istri, pembicaraan bisnis dengan rekan kerja, bawahan, atasan dan rekanan perusahaan, langganan dan masih banyak lagi. Sebagian besar terutama bagian-bagian penting yang menguntungkan untuk diri kita, pasti kita masih ingat.
Beberapa kalimat merupakan janji. Janji yang diucapkan kita untuk orang lain. Atau ucapan orang lain yang berjanji sesuatu untuk kita. Janji adalah hutang, oleh karena ini merupakan
urusan hutang-piutang, maka harus diingat dan bahkan dicatat….tanyakan pada akuntan anda. Sebagian orang mencatatnya dalam buku harian.
Dari sejumlah janji itu, mana yang dilaksana-kan? Yang mana yang sudah ditindak-lanjuti? Hati-hati! Terutama janji kita pada orang lain.
Harold S. Green mengatakan ini adalah hukum bisnis, tetapi sebenarnya hal ini juga berlaku untuk semua sektor kehidupan. Hanya karena di dalam bisnis umumnya diukur dalam angka, maka dengan mudah dapat kita sadari dan analisa. Paling tidak kita diingatkan.
Tentu anda sering bertemu dengan orang yang begitu pandai berbicara, menjelaskan dengan panjang lebar dan membuat janji-janji indah. Salesman, termasuk pula pejabat yang memimpin departemen/perusahaan kita, atau mungkin kita sendiri yang memimpin suatu perusahaan. Sebenarnya ini adalah talenta, tapi apakah pelaksanaannya sudah sesuai dengan yang diharapkan? Diantaranya tentu ada yang masih berhutang pada anda bukan? Atau bahkan mungkin sebaliknya,…. tanpa anda sadari?
Walaupun bukan satu-satunya, indikator yang paling mudah untuk dilihat adalah hasil akhir (bottom line figure). Lihatlah hasil anda sendiri, perusahaan atau departemen yang anda pimpin. Itulah kenyataannya! ***
Jaringan Hotel Sheraton menggunakan namanya sebagai penghargaan tertinggi
untuk para pemimpin terbaiknya yaitu “Harold S.Green Award”.
“Ucapan adalah ucapan, penjelasan adalah penjelasan, janji adalah janji, namun hanya hasil tindakan yang merupakan kenyataan”.
Kutipan ini begitu terkenalnya sehingga banyak sekolah bisnis di Amerika Serikat yang mengunakannya dalam salah satu mata kuliahnya, terutama tentang kepemimpinan.
Dalam mengarungi samudera kehidupan ini, pernahkan kita menghitung berapa kata yang telah terucap dalam satu hari, satu minggu, satu bulan dan seterusnya? Saya sangat yakin, kita tidak pernah menghitungnya. Kalaupun kita ingin menghitungnya, mungkin tidak sanggup. Lagi pula untuk apa?
Rangkaian kata-kata yang menjadi kalimat-kalimat juga tidak terhitung lagi sudah berapa yang pernah kita ucapkan. Dalam pembica-raaan pribadi, dengan teman, dengan orang tua, dengan anak-istri, pembicaraan bisnis dengan rekan kerja, bawahan, atasan dan rekanan perusahaan, langganan dan masih banyak lagi. Sebagian besar terutama bagian-bagian penting yang menguntungkan untuk diri kita, pasti kita masih ingat.
Beberapa kalimat merupakan janji. Janji yang diucapkan kita untuk orang lain. Atau ucapan orang lain yang berjanji sesuatu untuk kita. Janji adalah hutang, oleh karena ini merupakan
urusan hutang-piutang, maka harus diingat dan bahkan dicatat….tanyakan pada akuntan anda. Sebagian orang mencatatnya dalam buku harian.
Dari sejumlah janji itu, mana yang dilaksana-kan? Yang mana yang sudah ditindak-lanjuti? Hati-hati! Terutama janji kita pada orang lain.
Harold S. Green mengatakan ini adalah hukum bisnis, tetapi sebenarnya hal ini juga berlaku untuk semua sektor kehidupan. Hanya karena di dalam bisnis umumnya diukur dalam angka, maka dengan mudah dapat kita sadari dan analisa. Paling tidak kita diingatkan.
Tentu anda sering bertemu dengan orang yang begitu pandai berbicara, menjelaskan dengan panjang lebar dan membuat janji-janji indah. Salesman, termasuk pula pejabat yang memimpin departemen/perusahaan kita, atau mungkin kita sendiri yang memimpin suatu perusahaan. Sebenarnya ini adalah talenta, tapi apakah pelaksanaannya sudah sesuai dengan yang diharapkan? Diantaranya tentu ada yang masih berhutang pada anda bukan? Atau bahkan mungkin sebaliknya,…. tanpa anda sadari?
Walaupun bukan satu-satunya, indikator yang paling mudah untuk dilihat adalah hasil akhir (bottom line figure). Lihatlah hasil anda sendiri, perusahaan atau departemen yang anda pimpin. Itulah kenyataannya! ***
Kerja keras
As in the case of all branches of art, success depends in a very large measure upon individual initiative and exertion, and cannot be achieved except by dint of hard work. --- Anna Pavlova
Anna Pavlova (1881-1931) penari balet Rusia yang terkenal di seluruh dunia pada masanya.
Beliau adalah legenda untuk siswa-siswi sekolah balet saat ini.
Kerja keras adalah kunci dari seluruh kalimat kutipan di atas. Anna Pavlova adalah anak yang lahir dari seorang tukang cuci miskin. Secara fisik ia kelihatan begitu lemah….rapuh, tetapi dengan semangat dan usaha keras akhirnya ia dapat menjadi orang yang terkenal. Ia pernah mengalami percobaan pembunuhan, ia pernah mengalami kecelakaan. Namun itu semua tidak pernah menghentikan usahanya dalam berlatih dan tetap tampil dalam show yang telah dijadwalkan apapun resikonya.
Kasus yang sama di Indonesia, saat ini mungkin seperti Inul, penyanyi fenomenal yang terkenal dengan “goyang ngebor” nya.
Sukses selalu didahului dengan pengorbanan, apapun bentuk pengorbanan itu. Pada saat suatu perusahaan sukses menghasilkan laba yang besar, orang-orang tertentu mungkin akan berkata itu adalah hal yang biasa dan menyepelekannya. “Ah…….itu khan karena KKN.” “Itu mah kebetulan!” dan lain-lain.
Sebagian lagi orang-orang lain yang mengerti, tentu segera mencari apa rahasianya? Apa resepnya? Dan begitu diteliti lebih mendalam lagi, maka akan terurai begitu banyak pengorbanan yang telah dilakukan. Pengorbanan itu dikelompokkan dalam beberapa kategori yaitu, pengorbanan tenaga, pengorbanan waktu, pengorbanan uang,
pengorbanan perasaan dan pengorbanan pikiran.
Semua pengorbanan itu disebut dengan satu padanan katanya yaitu “Kerja Keras”.
Pada saat perusahaan mengalami keuntungan, banyak orang tidak tahu kerja keras dibelakangnya, tetapi sebaliknya bila perusahaan mengalami kerugian, maka sebagian besar orang segera dengan mudah menuduh pemimpin perusahaannya atau jajaran manajemennya kurang kerja keras. Bila sudah kerja keras tapi masih rugi, berarti pejabatnya kurang kompeten.
Di lain pihak, di mata para pejabat manajemen, yang merasa sudah kerja keras, akan langsung melihat dan berpikir para pelaksananyalah yang kurang bekerja keras. Kalau begitu siapa yang benar dan siapa yang salah? Tanyakan pada rumput yang bergoyang, kata Ebiet G. Ade. J
Inspirasi kali ini bukan mencari siapa yang benar dan yang salah. Inspirasi ini dimaksudkan mempertanyakan pada diri sendiri apakah saya sudah cukup berusaha? Usaha apa yang sudah saya lakukan? Apalagi usaha yang dapat saya lakukan?
Bila anda merasa semua usaha sudah cukup atau anda merasa sudah bekerja keras, dan tidak tahu usaha tambahan apalagi yang diperlukan, padahal perusahaan masih rugi terus……..mungkin anda tidak kompeten disini. ***
Anna Pavlova (1881-1931) penari balet Rusia yang terkenal di seluruh dunia pada masanya.
Beliau adalah legenda untuk siswa-siswi sekolah balet saat ini.
Kerja keras adalah kunci dari seluruh kalimat kutipan di atas. Anna Pavlova adalah anak yang lahir dari seorang tukang cuci miskin. Secara fisik ia kelihatan begitu lemah….rapuh, tetapi dengan semangat dan usaha keras akhirnya ia dapat menjadi orang yang terkenal. Ia pernah mengalami percobaan pembunuhan, ia pernah mengalami kecelakaan. Namun itu semua tidak pernah menghentikan usahanya dalam berlatih dan tetap tampil dalam show yang telah dijadwalkan apapun resikonya.
Kasus yang sama di Indonesia, saat ini mungkin seperti Inul, penyanyi fenomenal yang terkenal dengan “goyang ngebor” nya.
Sukses selalu didahului dengan pengorbanan, apapun bentuk pengorbanan itu. Pada saat suatu perusahaan sukses menghasilkan laba yang besar, orang-orang tertentu mungkin akan berkata itu adalah hal yang biasa dan menyepelekannya. “Ah…….itu khan karena KKN.” “Itu mah kebetulan!” dan lain-lain.
Sebagian lagi orang-orang lain yang mengerti, tentu segera mencari apa rahasianya? Apa resepnya? Dan begitu diteliti lebih mendalam lagi, maka akan terurai begitu banyak pengorbanan yang telah dilakukan. Pengorbanan itu dikelompokkan dalam beberapa kategori yaitu, pengorbanan tenaga, pengorbanan waktu, pengorbanan uang,
pengorbanan perasaan dan pengorbanan pikiran.
Semua pengorbanan itu disebut dengan satu padanan katanya yaitu “Kerja Keras”.
Pada saat perusahaan mengalami keuntungan, banyak orang tidak tahu kerja keras dibelakangnya, tetapi sebaliknya bila perusahaan mengalami kerugian, maka sebagian besar orang segera dengan mudah menuduh pemimpin perusahaannya atau jajaran manajemennya kurang kerja keras. Bila sudah kerja keras tapi masih rugi, berarti pejabatnya kurang kompeten.
Di lain pihak, di mata para pejabat manajemen, yang merasa sudah kerja keras, akan langsung melihat dan berpikir para pelaksananyalah yang kurang bekerja keras. Kalau begitu siapa yang benar dan siapa yang salah? Tanyakan pada rumput yang bergoyang, kata Ebiet G. Ade. J
Inspirasi kali ini bukan mencari siapa yang benar dan yang salah. Inspirasi ini dimaksudkan mempertanyakan pada diri sendiri apakah saya sudah cukup berusaha? Usaha apa yang sudah saya lakukan? Apalagi usaha yang dapat saya lakukan?
Bila anda merasa semua usaha sudah cukup atau anda merasa sudah bekerja keras, dan tidak tahu usaha tambahan apalagi yang diperlukan, padahal perusahaan masih rugi terus……..mungkin anda tidak kompeten disini. ***
Belajar sesudah pengalaman buruk
Bad times have a scientific value . . . . We learn geology the
morning after the earthquake. — Ralph Waldo Emerson
Ralph Waldo Emerson (1803-1882) lahir di Boston, 25 Mei 1803 adalah penulis beberapa
buku best seller dan pembicara publik abad 19 yang paling terkenal di Amerika.
-----------------------------------------------------------------------------------
Saat-saat buruk memiliki nilai pengetahuan …..……kita belajar ilmu bumi pada esok pagi setelah gempa bumi. Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah ini sudah terlambat?
Saya sendiri berpendapat tidak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu yang baik, apalagi untuk hal-hal yang berguna di masa yang akan datang. Bahkan sebaliknya hal ini harus segera dilakukan setelah kita dilanda musibah (the morning after…).
Kita mungkin lupa atau memang kekurangan pengetahuan dalam mengantisipasi “musibah”; itu sangat manusiawi. Tetapi bila setelah datangnya musibah, kita masih berharap pada “takdir” dan tidak melakukan apa-apa,……!!?
“Musibah itu hanyalah satu kesialan dan pada saatnya kita akan memetik keberuntungan”, kata para penganut sekte “hokky”. “Habis gelap terbitlah terang”, itu hukum alam yang dapat dijadikan alasan pembenaran. Di Indonesia kita mengalami 12 jam gelap, dan 12 jam berikutnya kita terang. Bila kita mau menerima keadaan “takdir” ini untuk apa Thomas Alfa Edison menciptakan listrik? Untuk apa ada PLN yang menerangi tempat tinggal dan tempat usaha kita?
Hukum alam memang tidak dapat diubah. Itu adalah wilayah hukum Tuhan. Tapi manusia yang memiliki akal dan pengetahuan dapatme-manage hukum itu agar tidak menjadi korban. Pengetahuan yang sama malah kadang bisa digunakan untuk kegunaan yang lain. Contoh yang sama untuk listrik, coba lihat sekeliling kita. Peralatan rumah tangga (yang memudahkan hidup manusia), peralatan Audio, Video (untuk kenikmatan) sebagian besar menggunakan tenaga listrik.
Itulah gunanya pengetahuan. Belajar dari ketidakberuntungan, kadang kita memperoleh pengetahuan baru,……sepanjang kita mau dan segera bertindak
Pada saat-saat tertentu, perusahaan dapat mengalami kerugian. Sebaiknya memang manajemen dapat mengantisipasi sebelumnya dan menghindari kerugian tersebut. Tetapi ada kalanya pengetahuan itu tidak dimiliki. Masih belum terlambat untuk mempelajarinya.
Dalam dunia usaha yang berubah dengan cepat, timbulnya pesaing baru,, harapan dan keinginan konsumen yang berubah, produk yang sudah ketinggalan jaman (bukan trend-nya lagi) merupakan beberapa faktor eksternal yang dapat dipelajari.
Masalah-masalah organisasi, manajemen tenaga kerja, sistem informasi dan pelaporan, adalah beberapa faktor yang mungkin dapat diperbaiki. Yang terpenting adalah segera belajar pengetahuan yang terkait dan terapkan. ***
morning after the earthquake. — Ralph Waldo Emerson
Ralph Waldo Emerson (1803-1882) lahir di Boston, 25 Mei 1803 adalah penulis beberapa
buku best seller dan pembicara publik abad 19 yang paling terkenal di Amerika.
-----------------------------------------------------------------------------------
Saat-saat buruk memiliki nilai pengetahuan …..……kita belajar ilmu bumi pada esok pagi setelah gempa bumi. Yang menjadi pertanyaan adalah: apakah ini sudah terlambat?
Saya sendiri berpendapat tidak ada kata terlambat untuk melakukan sesuatu yang baik, apalagi untuk hal-hal yang berguna di masa yang akan datang. Bahkan sebaliknya hal ini harus segera dilakukan setelah kita dilanda musibah (the morning after…).
Kita mungkin lupa atau memang kekurangan pengetahuan dalam mengantisipasi “musibah”; itu sangat manusiawi. Tetapi bila setelah datangnya musibah, kita masih berharap pada “takdir” dan tidak melakukan apa-apa,……!!?
“Musibah itu hanyalah satu kesialan dan pada saatnya kita akan memetik keberuntungan”, kata para penganut sekte “hokky”. “Habis gelap terbitlah terang”, itu hukum alam yang dapat dijadikan alasan pembenaran. Di Indonesia kita mengalami 12 jam gelap, dan 12 jam berikutnya kita terang. Bila kita mau menerima keadaan “takdir” ini untuk apa Thomas Alfa Edison menciptakan listrik? Untuk apa ada PLN yang menerangi tempat tinggal dan tempat usaha kita?
Hukum alam memang tidak dapat diubah. Itu adalah wilayah hukum Tuhan. Tapi manusia yang memiliki akal dan pengetahuan dapatme-manage hukum itu agar tidak menjadi korban. Pengetahuan yang sama malah kadang bisa digunakan untuk kegunaan yang lain. Contoh yang sama untuk listrik, coba lihat sekeliling kita. Peralatan rumah tangga (yang memudahkan hidup manusia), peralatan Audio, Video (untuk kenikmatan) sebagian besar menggunakan tenaga listrik.
Itulah gunanya pengetahuan. Belajar dari ketidakberuntungan, kadang kita memperoleh pengetahuan baru,……sepanjang kita mau dan segera bertindak
Pada saat-saat tertentu, perusahaan dapat mengalami kerugian. Sebaiknya memang manajemen dapat mengantisipasi sebelumnya dan menghindari kerugian tersebut. Tetapi ada kalanya pengetahuan itu tidak dimiliki. Masih belum terlambat untuk mempelajarinya.
Dalam dunia usaha yang berubah dengan cepat, timbulnya pesaing baru,, harapan dan keinginan konsumen yang berubah, produk yang sudah ketinggalan jaman (bukan trend-nya lagi) merupakan beberapa faktor eksternal yang dapat dipelajari.
Masalah-masalah organisasi, manajemen tenaga kerja, sistem informasi dan pelaporan, adalah beberapa faktor yang mungkin dapat diperbaiki. Yang terpenting adalah segera belajar pengetahuan yang terkait dan terapkan. ***
Subscribe to:
Posts (Atom)