There is one way to find out if a man is honest--ask him. If he says yes, you know he is crooked. — Groucho Marx
Groucho Marx (1895-1977) seorang aktor film komedi Amerika, bersama-sama saudaranya terkenal sebagai Marx Brother. Lima bersaudara sejak kecil sudah manggung di theater Broadway
-------------
Sebagai manusia biasa, tentunya kita senang bila usulan atau pendapat kita di setujui orang lain. Setuju berarti mendukung, tapi pendapat yang didukung belum tentu benar. Dan hal ini sering kali membuat kita terlena dan jatuh.
Sejarah menunjukan banyak pemimpin yang jatuh karena terlena oleh bawahannya yang ABS (asal bapak senang), Yes Man, dan penjilat-penjilat ulung. Dalam sejarah Indonesia kita bisa belajar dari kejatuhan Soekarno, Suharto, dan terakhir Gus Dur. Mereka adalah pemimpin yang sangat berkuasa pada jamannya, namun akhirnya jatuh karena orang-orang dekatnya tidak menginformasikan keadaan luar yang sebenarnya.
Pada waktu kita salah, bawahan penjilat bila ditanya pendapatnya, tetap akan mengatakan setuju dan benar, namun bawahan yang baik dan loyal akan memberikan kritik dan usulan alternatif. Bawahan yang loyal berani mengambil resiko kehilangan jabatannya untuk sebuah kebenaran. Sebaliknya bawahan penjilat hanya bermaksud melindungi jabatan dia sendiri, kalau perlu dengan mengorbankan atasan.
Tanpa disadari, kita sering kali tertipu. Salah satu kelemahan manusia yang seringkali dimanipulasi adalah kebanggaan diri, harga diri, dan kesombongan. Ego manusia, apalagi pada saat berkuasa sangat rentan dengan godaan ini.
Rasanya memang lebih enak mendengar kata-kata yang manis, walaupun itu beracun.
Kutipan dari Groucho Marx kali ini mempunyai tema sentral yaitu kejujuran. Kejujuran ada di dalam hati, bukan dalam ucapan. Kata-kata seseorang dan bahkan suatu perbuatan dapat hanya merupakan sebuah sandiwara yang secara sengaja dilakukan untuk mengesankan bahwa dia jujur, namun apa yang sebenarnya hanya dia sendirilah yang tahu.
Bukan hal yang mudah untuk mengetahui seorang jujur atau sedang berbohong, namun hal itu bukan hal yang luar biasa dan bahkan dapat dipelajari. Belajar dari pengamatan. Belajar dari pengalaman.
Salah satu cara yang saya pribadi sering terapkan untuk hal ini adalah sebagai berikut: Suatu saat bila perusahaan ada satu masalah, saya mengun-dang semua bawahan untuk diskusi mencari solusinya. Masing-masing orang yang mengelu-arkan solusi, dicatat nama dan solusinya. Sesudah terkumpul cukup alternatif solusi, saya akan mengeluarkan ide/solusi sendiri yang sebenarnya juga tidak saya setujui. Sesudah itu grup akan terbagi menjadi tiga yaitu: bawahan yang langsung berubah mengikuti solusi saya, bawahan yang diam saja takut berkomentar, dan yang menolak. Dengan beberapa kali melakukan ini, saya dengan mudah mengetahui siapa bawahan saya yang loyal dan siapa penjilat. ***
Blog ini akan memuat tulisan2 tentang management, inspirasi dan peluang usaha baik yang sudah saya geluti maupun ide dari teman pengunjung blog ini. Semoga blog ini bisa punya nilai plus buat anda sekalian. Terima kasih menyempatkan diri membaca blog sederhana ini.
Showing posts with label leadership. Show all posts
Showing posts with label leadership. Show all posts
Team Work - berbagi tugas juga sebuah leadership
"Not the cry, but the flight of the wild duck, leads the flock to fly and follow."
-----Chinese Proverb
Pernah lihat atau memperhatikan bagaimana sekawanan angsa terbang? Mereka biasanya akan membentuk formasi yang sangat menakjubkan dan biasanya dalam bentuk huruf “V” dengan ujungnya menghadap depan “ < ”
Saya pernah dikirimi file power point tentang angsa terbang ini dan saya yakin file ini juga pernah mampir dalam inbox email anda.
Sekedar merefresh kembali arti dari formasi terbang angsa tersebut, mereka secara naluri membentuk V shape tentunya untuk memini-malisasi terpaan angin, sehingga mereka bisa lebih menghemat tenaga dan dapat menempuh jarak yang jauh. Angsa terdepan terbang memimpin rekan-rekannya dan menghadapi terpaan angin yang paling kencang. Teman-temannya di samping dan dibelakang menghadapi terpaan angin relatif lebih kecil. Bahkan beberapa angsa yang terbang dalam lindungan formasi tidak perlu capek-capek mengepakan sayapnya.
Beberapa waktu setelah angsa terdepan memimpin, berikutnya dia akan diganti oleh angsa kedua, dan begitu seterusnya. Semua angsa memperoleh giliran terbang di depan, sementara angsa yang lain bisa “istirahat” sejenak. Setiap angsa akan mendapat giliran menjadi pengikut sekaligus menjadi pimpinan.
Pernahkan anda melakukan survey, berapa kilometer mereka terbang saat bermigrasi?
Buat saya, ini adalah inspirasi yang benar-benar mengagumkan untuk leadership dan team work.
Kalau melihat perusahaan-perusahaan besar baik di Indonesia maupun di negara lain, yang mempunyai sejarah panjang, bahkan sudah ada yang ratusan tahun, tentunya tanpa disadari model kepemimpinan gaya angsa ini diterapkan.
Pada perusahaan keluargapun, sang ayah akan melatih anaknya mulai dari jabatan staff biasa. Bila tiba waktunya maka sang anak akan mengambil alih pimpinan sesuai dengan kemampuannya agar perusahaan yang dikemudikan tetap dapat terbang melaju secara lancar.
Sebaliknya, saya juga yakin dalam setiap perusahaan ada juga beberapa pemilik perusahaan, maupun manajer professional non keluarga yang takut memberikan ilmunya pada bawahannya. Sebisa mungkin dia akan menjaga agar posisinya tidak ada yang mengambil alih.
Berapa lama manajer model ini mampu bertahan? Lama kelamaan dia sendiri yang akan kehabisan tenaga. Kemudian efeknya adalah departemen atau perusahaan yang dia pimpin juga akan hancur bukan? Istilah anak abg sekarang adalah “sepuluh kali sepuluh….capekk dehh!” :)
Mudah-mudahan anda tidak termasuk dalam kategori ini, tapi sebaliknya pemimpin yang menerapkan filosofi angsa. ***
-----Chinese Proverb
Pernah lihat atau memperhatikan bagaimana sekawanan angsa terbang? Mereka biasanya akan membentuk formasi yang sangat menakjubkan dan biasanya dalam bentuk huruf “V” dengan ujungnya menghadap depan “ < ”
Saya pernah dikirimi file power point tentang angsa terbang ini dan saya yakin file ini juga pernah mampir dalam inbox email anda.
Sekedar merefresh kembali arti dari formasi terbang angsa tersebut, mereka secara naluri membentuk V shape tentunya untuk memini-malisasi terpaan angin, sehingga mereka bisa lebih menghemat tenaga dan dapat menempuh jarak yang jauh. Angsa terdepan terbang memimpin rekan-rekannya dan menghadapi terpaan angin yang paling kencang. Teman-temannya di samping dan dibelakang menghadapi terpaan angin relatif lebih kecil. Bahkan beberapa angsa yang terbang dalam lindungan formasi tidak perlu capek-capek mengepakan sayapnya.
Beberapa waktu setelah angsa terdepan memimpin, berikutnya dia akan diganti oleh angsa kedua, dan begitu seterusnya. Semua angsa memperoleh giliran terbang di depan, sementara angsa yang lain bisa “istirahat” sejenak. Setiap angsa akan mendapat giliran menjadi pengikut sekaligus menjadi pimpinan.
Pernahkan anda melakukan survey, berapa kilometer mereka terbang saat bermigrasi?
Buat saya, ini adalah inspirasi yang benar-benar mengagumkan untuk leadership dan team work.
Kalau melihat perusahaan-perusahaan besar baik di Indonesia maupun di negara lain, yang mempunyai sejarah panjang, bahkan sudah ada yang ratusan tahun, tentunya tanpa disadari model kepemimpinan gaya angsa ini diterapkan.
Pada perusahaan keluargapun, sang ayah akan melatih anaknya mulai dari jabatan staff biasa. Bila tiba waktunya maka sang anak akan mengambil alih pimpinan sesuai dengan kemampuannya agar perusahaan yang dikemudikan tetap dapat terbang melaju secara lancar.
Sebaliknya, saya juga yakin dalam setiap perusahaan ada juga beberapa pemilik perusahaan, maupun manajer professional non keluarga yang takut memberikan ilmunya pada bawahannya. Sebisa mungkin dia akan menjaga agar posisinya tidak ada yang mengambil alih.
Berapa lama manajer model ini mampu bertahan? Lama kelamaan dia sendiri yang akan kehabisan tenaga. Kemudian efeknya adalah departemen atau perusahaan yang dia pimpin juga akan hancur bukan? Istilah anak abg sekarang adalah “sepuluh kali sepuluh….capekk dehh!” :)
Mudah-mudahan anda tidak termasuk dalam kategori ini, tapi sebaliknya pemimpin yang menerapkan filosofi angsa. ***
Mengambil alih tanggung jawab
There’s just three things I’d ever say:
If anything goes bad, I did it.
If anything goes semi-good, then we did it.
If anything goes real good, then you did it.
That’s all it takes to get people to win football games for you. — Paul (Bear) Bryant
Paul William Bryant (1913-1983) pelatih American Football yang sepanjang 38 tahun kariernya memiliki rekor sebagai pelatih yang memenangkan pertandingan terbanyak sampai saat ini.
-----
Inspirasi apa yang anda peroleh hari ini dengan membaca peryataan diatas? Pemimpin yang bertanggung jawab akan memperoleh dukungan dari bawahan, dan mereka akan dengan suka rela bertanding (baca:bekerja) untuk anda. Untuk kemenangan anda.
Permainan american football merupakan permainan yang paling digemari dan dimainkan oleh masyarakat Amerika, selain basket. Mulai dari sekolah menengah atas dan hampir semua universitas memiliki klub football. Yang menjadi pemenang dalam setiap liga kompetisi akan memperoleh kebanggaan dan gengsi tersendiri. Bayangkan tingkat persaingan antar masing-masing klub disana. Di Indonesia, kita lebih mengenal basket NBA. Persaingannya kira-kira sekelas NBA dan bahkan lebih keras dalam beberapa faktor.
Menjadi pemimpin yang sukses ditengah persaingan yang semakin ketat, yang tidak lagi mengenal batas teritori wilayah, bukan pekerjaaan mudah. Salah satu kepandaian yang harus dimiliki adalah kemampuan mempercayai orang lain. Dalam buku teori, dikatakan: Manajemen adalah proses mencapai sesuatu tujuan melalui orang lain.
Pemimpin menjelaskan visi dan misinya kepada bawahannya. Bawahan menerjemahkan secara operasional dan melaksanakannya.
Paul Bryant menerapkan ini untuk para pemainnya. Dia menjelaskan misinya yaitu meraih kemenangan. Dia mempercayakan hal ini kepada para pemainnya. Para pemain mempercayainya dan tidak pernah takut dalam melaksanakan tugas-tugas untuk mencapai misi tersebut, karena beliau mengambil alih semua tanggung jawab. Sebaliknya bila misi tercapai, para pemainlah yang mendapat rewardnya.
Mengagumkan! Dimanakah kita bisa menemui pemimpin seperti ini? Bila di perusahaan anda, ada pemimpin demikian, maka berbahagialah, karena perusahaan anda pastilah sudah menjadi suatu perusahaan yang terbaik, paling tidak merupakan perusahaan ranking teratas dalam bidang industri sejenis. Lihatlah produktivitas yang dihasilkan para karyawannya.
Kemudian bayangkan bila suatu perusahaan memiliki pimpinan dengan tipe sebaliknya. Dia selalu menyalahkan bawahannya atau orang lain, bila terjadi kegagalan. Bila terjadi keberhasilan, dia akan menjadi orang pertama yang maju ke muka mengambil penghargaan. Produktivitas perusahaan ini pasti sedang menuju titik nol. Yang terjadi adalah para karyawan bekerja seadanya, dan hanya memperhatikan waktu istirahat dan pulang. Bekerja tanpa motivasi. Akhirnya yang tinggal di perusahaan ini hanyalah para zombie, dan ditinggalkan tenaga-tenaga handalnya. Bila anda seorang pemimpin, inikah cita-cita anda?
If anything goes bad, I did it.
If anything goes semi-good, then we did it.
If anything goes real good, then you did it.
That’s all it takes to get people to win football games for you. — Paul (Bear) Bryant
Paul William Bryant (1913-1983) pelatih American Football yang sepanjang 38 tahun kariernya memiliki rekor sebagai pelatih yang memenangkan pertandingan terbanyak sampai saat ini.
-----
Inspirasi apa yang anda peroleh hari ini dengan membaca peryataan diatas? Pemimpin yang bertanggung jawab akan memperoleh dukungan dari bawahan, dan mereka akan dengan suka rela bertanding (baca:bekerja) untuk anda. Untuk kemenangan anda.
Permainan american football merupakan permainan yang paling digemari dan dimainkan oleh masyarakat Amerika, selain basket. Mulai dari sekolah menengah atas dan hampir semua universitas memiliki klub football. Yang menjadi pemenang dalam setiap liga kompetisi akan memperoleh kebanggaan dan gengsi tersendiri. Bayangkan tingkat persaingan antar masing-masing klub disana. Di Indonesia, kita lebih mengenal basket NBA. Persaingannya kira-kira sekelas NBA dan bahkan lebih keras dalam beberapa faktor.
Menjadi pemimpin yang sukses ditengah persaingan yang semakin ketat, yang tidak lagi mengenal batas teritori wilayah, bukan pekerjaaan mudah. Salah satu kepandaian yang harus dimiliki adalah kemampuan mempercayai orang lain. Dalam buku teori, dikatakan: Manajemen adalah proses mencapai sesuatu tujuan melalui orang lain.
Pemimpin menjelaskan visi dan misinya kepada bawahannya. Bawahan menerjemahkan secara operasional dan melaksanakannya.
Paul Bryant menerapkan ini untuk para pemainnya. Dia menjelaskan misinya yaitu meraih kemenangan. Dia mempercayakan hal ini kepada para pemainnya. Para pemain mempercayainya dan tidak pernah takut dalam melaksanakan tugas-tugas untuk mencapai misi tersebut, karena beliau mengambil alih semua tanggung jawab. Sebaliknya bila misi tercapai, para pemainlah yang mendapat rewardnya.
Mengagumkan! Dimanakah kita bisa menemui pemimpin seperti ini? Bila di perusahaan anda, ada pemimpin demikian, maka berbahagialah, karena perusahaan anda pastilah sudah menjadi suatu perusahaan yang terbaik, paling tidak merupakan perusahaan ranking teratas dalam bidang industri sejenis. Lihatlah produktivitas yang dihasilkan para karyawannya.
Kemudian bayangkan bila suatu perusahaan memiliki pimpinan dengan tipe sebaliknya. Dia selalu menyalahkan bawahannya atau orang lain, bila terjadi kegagalan. Bila terjadi keberhasilan, dia akan menjadi orang pertama yang maju ke muka mengambil penghargaan. Produktivitas perusahaan ini pasti sedang menuju titik nol. Yang terjadi adalah para karyawan bekerja seadanya, dan hanya memperhatikan waktu istirahat dan pulang. Bekerja tanpa motivasi. Akhirnya yang tinggal di perusahaan ini hanyalah para zombie, dan ditinggalkan tenaga-tenaga handalnya. Bila anda seorang pemimpin, inikah cita-cita anda?
KEPUTUSAN
Decision is a sharp knife that cuts clean and straight; indecision, a dull one that hacks and tears and leaves ragged edges behind it. — Gordon Graham
Gordon Graham seorang veteran polisi yang telah mengabdi 26 tahun di California, AS. Setelah pensiun, beliau menjadi pembicara publik, pengacara dan pelatih armada pemadam kebakaran.
-----------
Keputusan adalah sebuah pisau tajam yang memotong secara bersih dan lurus, sebaliknya ketidakmampuan mengambil keputusan, bagaikan sebuah pisau tumpul yang mencabik dan merobek sesuatu dan meninggalkannya compang camping.
Sebuah pernyataan yang mempunyai kesan tegas dan jelas. Begitulah sebuah keputusan harus dibuat. Tapi tidak semua orang (baca: pimpinan) mampu melakukannya.
Beberapa pimpinan sangat “berhati-hati” dalam mengambil keputusan. Berhati-hati bukan karena masih ada data atau informasi lain yang ingin dikumpulkan agar suatu keputusan dapat tepat dan benar, tetapi lebih karena ingin melepaskan tanggung jawab. Kalau bisa jangan mengambil keputusan, dan biarkan orang lain yang mengambil keputusan, atau biarkan waktu yang akan menyelesaikannya. Jadi bila terjadi kegagalan/kesalahan nantinya, saya bisa cuci tangan. Kalau ternyata kemudian keputusan yang dibuat orang lain tersebut membuahkan keberhasilan, berarti tindakan saya benar, yaitu tidak membuat keputusan dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk membuat keputusan. Nothing to lose. Bukankah ada yang mengatakan tidak membuat keputusan adalah sebuah keputusan juga. Hebat bukan?
Amati sekeliling anda. Apakah ada jenis pemimpin ini di sekitar anda?
Biasanya tipe pimpinan ini banyak ada di dalam organisasi yang sudah berumur cukup tua, atau dalam organisasi besar mapan yang telah melewati masa-masa pertumbuhannya dan sedang menuju masa penurunan. Mengapa? Karena jenis pimpinan ini tidak akan mampu bertahan pada perusahaan yang sedang tumbuh.
Pada perusahaan yang sedang tumbuh, semua orang dalam organisasi harus bergerak cepat dan tepat. Yang diperlukan adalah para pemimpin yang berani mengambil resiko dan dapat mengambil keputusan secara cepat. Tentunya dengan mempertimbangkan data dan informasi yang tersedia. Bila tidak cepat, maka peluang bisnis yang ada akan disambar oleh perusahaan kompetitor lain.
Oleh karena itu, bila anda menemui ada jenis pimpinan yang sulit/ tidak mau mengambil keputusan, pimpinan yang pro kemapanan, membiarkan status quo, maka bersiap-siaplah. Perusahaan anda sedang menuju pada kebangkrutan!
Tidak ada yang tidak berubah di dalam dunia ini. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Perusahaan yang lambat mengikuti perubahan dengan sendirinya akan ketinggalan dan tergilas.
Mulailah membuat keputusan. Jangan takut gagal atau salah. Di jaman krisis atau booming, di jaman bullish atau bearish. Buatlah keputusan, jangan menunggu. Lebih baik salah jalan, anda masih bisa putar balik masuk ke jalan yang benar, dari pada tidak pernah jalan sama sekali.
( yanky )
Gordon Graham seorang veteran polisi yang telah mengabdi 26 tahun di California, AS. Setelah pensiun, beliau menjadi pembicara publik, pengacara dan pelatih armada pemadam kebakaran.
-----------
Keputusan adalah sebuah pisau tajam yang memotong secara bersih dan lurus, sebaliknya ketidakmampuan mengambil keputusan, bagaikan sebuah pisau tumpul yang mencabik dan merobek sesuatu dan meninggalkannya compang camping.
Sebuah pernyataan yang mempunyai kesan tegas dan jelas. Begitulah sebuah keputusan harus dibuat. Tapi tidak semua orang (baca: pimpinan) mampu melakukannya.
Beberapa pimpinan sangat “berhati-hati” dalam mengambil keputusan. Berhati-hati bukan karena masih ada data atau informasi lain yang ingin dikumpulkan agar suatu keputusan dapat tepat dan benar, tetapi lebih karena ingin melepaskan tanggung jawab. Kalau bisa jangan mengambil keputusan, dan biarkan orang lain yang mengambil keputusan, atau biarkan waktu yang akan menyelesaikannya. Jadi bila terjadi kegagalan/kesalahan nantinya, saya bisa cuci tangan. Kalau ternyata kemudian keputusan yang dibuat orang lain tersebut membuahkan keberhasilan, berarti tindakan saya benar, yaitu tidak membuat keputusan dan memberikan kesempatan kepada orang lain untuk membuat keputusan. Nothing to lose. Bukankah ada yang mengatakan tidak membuat keputusan adalah sebuah keputusan juga. Hebat bukan?
Amati sekeliling anda. Apakah ada jenis pemimpin ini di sekitar anda?
Biasanya tipe pimpinan ini banyak ada di dalam organisasi yang sudah berumur cukup tua, atau dalam organisasi besar mapan yang telah melewati masa-masa pertumbuhannya dan sedang menuju masa penurunan. Mengapa? Karena jenis pimpinan ini tidak akan mampu bertahan pada perusahaan yang sedang tumbuh.
Pada perusahaan yang sedang tumbuh, semua orang dalam organisasi harus bergerak cepat dan tepat. Yang diperlukan adalah para pemimpin yang berani mengambil resiko dan dapat mengambil keputusan secara cepat. Tentunya dengan mempertimbangkan data dan informasi yang tersedia. Bila tidak cepat, maka peluang bisnis yang ada akan disambar oleh perusahaan kompetitor lain.
Oleh karena itu, bila anda menemui ada jenis pimpinan yang sulit/ tidak mau mengambil keputusan, pimpinan yang pro kemapanan, membiarkan status quo, maka bersiap-siaplah. Perusahaan anda sedang menuju pada kebangkrutan!
Tidak ada yang tidak berubah di dalam dunia ini. Yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Perusahaan yang lambat mengikuti perubahan dengan sendirinya akan ketinggalan dan tergilas.
Mulailah membuat keputusan. Jangan takut gagal atau salah. Di jaman krisis atau booming, di jaman bullish atau bearish. Buatlah keputusan, jangan menunggu. Lebih baik salah jalan, anda masih bisa putar balik masuk ke jalan yang benar, dari pada tidak pernah jalan sama sekali.
( yanky )
3 Tipe Pemimpin
A leader is best, when people barely know he exists. Not so good, when people obey and acclaim him. Worse when they despise him. But of a good leader, who talks little, when his work is done, his aim fulfilled. They will say "We did it ourselves." Lao Tse
Lao Tse merupakan salah satu guru dari Khong Hu Cu. Ajaran tokoh besar orang Tionghoa ini disebut Konfusianisme di Barat, sedang di Tiongkok disebut “Ru Jiao” (ajaran kaum terpelajar).
Konfusianisme merupakan perpadauan ajaran antara Lao
Tse dan Khong Hu Cu.
Seorang pemimpin dikatakan terbaik bila hampir tidak ada orang yang mengetahuinya. Tidak begitu baik bila orang menurut dan bertepuk tangan untuknya. Lebih buruk lagi bila mereka mengabaikannya. Tetapi dari seorang pemimpin yang baik, sedikit bicara, waktu pekerjaannya selesai, tujuannya telah tercapai. Orang lain akan mengaku “kita telah melakukannya sendiri”.
Kalimat-kalimat diatas sungguh sangat indah dan mengandung makna yang dalam. Saya membacanya pelan-pelan dan berulang-ulang. Perlu ketenangan dan pikiran jernih untuk dapat menyerap dan mengerti maknanya.
Kontradiksi sekali dengan apa yang kita lihat sehari-hari, kita banyak mengenal tokoh/ pemimpin besar. Mereka mempunyai pengikut setia yang banyak, kemana-mana mendapat sambutan luar biasa. Beberapa diantaranya adalah pemimpin, dimana tidak ada orang yang berani menentang perintahnya. Tetapi menurut Lao Tse, tipe ini bukanlah tipe pemimpin yang terbaik. Pemimpin terbaik justru adalah pemimpin yang hanya diketahui sedikit orang, yang mampu mengendalikan orang tanpa kelihatan, dan orang yang dikendalikan tidak pernah merasa dikendalikan. Dari sekian banyak para pemimpin besar yang kita tahu, berapa yang telah mencapai tingkat sebagai pemimpin terbaik?
Kategori ketiga adalah pemimpin yang buruk, yaitu bila orang-orang mengabaikannya, tidak menuruti perintahnya, atau memandang rendah dirinya. Inilah contoh pemimpin yang gagal.
Berbagai macam alasan dapat menyebabkan seorang pemimpin ditinggalkan pengikutnya. Mungkin dia tidak memiliki kekuasaan formal lagi, karena dulu orang menghormati kedudukan atau jabatannya saja. Dia hanyalah seorang pimpinan tapi bukan pemimpin.
Bila sang pimpinan masih mempunyai jabatan/ kekuasaan formal, tetapi perintahnya tidak dituruti bawahannya, itulah yang dimaksudkan sebagai seorang pemimpin yang buruk.
Kehilangan kepercayaan dari bawahan, banyak melakukan kebohongan, sering membuat janji-janji palsu, tidak kompeten, tidak adil, dan masih banyak lagi faktor-faktor lain dapat menyebab-kan dan menjadi bibit seorang pimpinan tidak ditaati oleh bawahannya.
Itulah tiga kategori pemimpin menurut Lao Tse, yaitu 1. Pemimpin yang sedikit dikenal, tetapi tujuannya selalu tercapai. 2. Pemimpin yang diikuti dan dipuja banyak orang 3. Pemimpin yang diabaikan dan dipandang rendah orang.
Lihatlah kedalam diri anda sendiri! Apakah saya seorang pemimpin? Termasuk dalam kategori pemimpin yang manakah saya? ***
Lao Tse merupakan salah satu guru dari Khong Hu Cu. Ajaran tokoh besar orang Tionghoa ini disebut Konfusianisme di Barat, sedang di Tiongkok disebut “Ru Jiao” (ajaran kaum terpelajar).
Konfusianisme merupakan perpadauan ajaran antara Lao
Tse dan Khong Hu Cu.
Seorang pemimpin dikatakan terbaik bila hampir tidak ada orang yang mengetahuinya. Tidak begitu baik bila orang menurut dan bertepuk tangan untuknya. Lebih buruk lagi bila mereka mengabaikannya. Tetapi dari seorang pemimpin yang baik, sedikit bicara, waktu pekerjaannya selesai, tujuannya telah tercapai. Orang lain akan mengaku “kita telah melakukannya sendiri”.
Kalimat-kalimat diatas sungguh sangat indah dan mengandung makna yang dalam. Saya membacanya pelan-pelan dan berulang-ulang. Perlu ketenangan dan pikiran jernih untuk dapat menyerap dan mengerti maknanya.
Kontradiksi sekali dengan apa yang kita lihat sehari-hari, kita banyak mengenal tokoh/ pemimpin besar. Mereka mempunyai pengikut setia yang banyak, kemana-mana mendapat sambutan luar biasa. Beberapa diantaranya adalah pemimpin, dimana tidak ada orang yang berani menentang perintahnya. Tetapi menurut Lao Tse, tipe ini bukanlah tipe pemimpin yang terbaik. Pemimpin terbaik justru adalah pemimpin yang hanya diketahui sedikit orang, yang mampu mengendalikan orang tanpa kelihatan, dan orang yang dikendalikan tidak pernah merasa dikendalikan. Dari sekian banyak para pemimpin besar yang kita tahu, berapa yang telah mencapai tingkat sebagai pemimpin terbaik?
Kategori ketiga adalah pemimpin yang buruk, yaitu bila orang-orang mengabaikannya, tidak menuruti perintahnya, atau memandang rendah dirinya. Inilah contoh pemimpin yang gagal.
Berbagai macam alasan dapat menyebabkan seorang pemimpin ditinggalkan pengikutnya. Mungkin dia tidak memiliki kekuasaan formal lagi, karena dulu orang menghormati kedudukan atau jabatannya saja. Dia hanyalah seorang pimpinan tapi bukan pemimpin.
Bila sang pimpinan masih mempunyai jabatan/ kekuasaan formal, tetapi perintahnya tidak dituruti bawahannya, itulah yang dimaksudkan sebagai seorang pemimpin yang buruk.
Kehilangan kepercayaan dari bawahan, banyak melakukan kebohongan, sering membuat janji-janji palsu, tidak kompeten, tidak adil, dan masih banyak lagi faktor-faktor lain dapat menyebab-kan dan menjadi bibit seorang pimpinan tidak ditaati oleh bawahannya.
Itulah tiga kategori pemimpin menurut Lao Tse, yaitu 1. Pemimpin yang sedikit dikenal, tetapi tujuannya selalu tercapai. 2. Pemimpin yang diikuti dan dipuja banyak orang 3. Pemimpin yang diabaikan dan dipandang rendah orang.
Lihatlah kedalam diri anda sendiri! Apakah saya seorang pemimpin? Termasuk dalam kategori pemimpin yang manakah saya? ***
It is an immutable law in business that words are words, explanations are explanations, promises are promises — but only performance is reality.Harold S. Green
Jaringan Hotel Sheraton menggunakan namanya sebagai penghargaan tertinggi
untuk para pemimpin terbaiknya yaitu “Harold S.Green Award”.
“Ucapan adalah ucapan, penjelasan adalah penjelasan, janji adalah janji, namun hanya hasil tindakan yang merupakan kenyataan”.
Kutipan ini begitu terkenalnya sehingga banyak sekolah bisnis di Amerika Serikat yang mengunakannya dalam salah satu mata kuliahnya, terutama tentang kepemimpinan.
Dalam mengarungi samudera kehidupan ini, pernahkan kita menghitung berapa kata yang telah terucap dalam satu hari, satu minggu, satu bulan dan seterusnya? Saya sangat yakin, kita tidak pernah menghitungnya. Kalaupun kita ingin menghitungnya, mungkin tidak sanggup. Lagi pula untuk apa?
Rangkaian kata-kata yang menjadi kalimat-kalimat juga tidak terhitung lagi sudah berapa yang pernah kita ucapkan. Dalam pembica-raaan pribadi, dengan teman, dengan orang tua, dengan anak-istri, pembicaraan bisnis dengan rekan kerja, bawahan, atasan dan rekanan perusahaan, langganan dan masih banyak lagi. Sebagian besar terutama bagian-bagian penting yang menguntungkan untuk diri kita, pasti kita masih ingat.
Beberapa kalimat merupakan janji. Janji yang diucapkan kita untuk orang lain. Atau ucapan orang lain yang berjanji sesuatu untuk kita. Janji adalah hutang, oleh karena ini merupakan
urusan hutang-piutang, maka harus diingat dan bahkan dicatat….tanyakan pada akuntan anda. Sebagian orang mencatatnya dalam buku harian.
Dari sejumlah janji itu, mana yang dilaksana-kan? Yang mana yang sudah ditindak-lanjuti? Hati-hati! Terutama janji kita pada orang lain.
Harold S. Green mengatakan ini adalah hukum bisnis, tetapi sebenarnya hal ini juga berlaku untuk semua sektor kehidupan. Hanya karena di dalam bisnis umumnya diukur dalam angka, maka dengan mudah dapat kita sadari dan analisa. Paling tidak kita diingatkan.
Tentu anda sering bertemu dengan orang yang begitu pandai berbicara, menjelaskan dengan panjang lebar dan membuat janji-janji indah. Salesman, termasuk pula pejabat yang memimpin departemen/perusahaan kita, atau mungkin kita sendiri yang memimpin suatu perusahaan. Sebenarnya ini adalah talenta, tapi apakah pelaksanaannya sudah sesuai dengan yang diharapkan? Diantaranya tentu ada yang masih berhutang pada anda bukan? Atau bahkan mungkin sebaliknya,…. tanpa anda sadari?
Walaupun bukan satu-satunya, indikator yang paling mudah untuk dilihat adalah hasil akhir (bottom line figure). Lihatlah hasil anda sendiri, perusahaan atau departemen yang anda pimpin. Itulah kenyataannya! ***
Jaringan Hotel Sheraton menggunakan namanya sebagai penghargaan tertinggi
untuk para pemimpin terbaiknya yaitu “Harold S.Green Award”.
“Ucapan adalah ucapan, penjelasan adalah penjelasan, janji adalah janji, namun hanya hasil tindakan yang merupakan kenyataan”.
Kutipan ini begitu terkenalnya sehingga banyak sekolah bisnis di Amerika Serikat yang mengunakannya dalam salah satu mata kuliahnya, terutama tentang kepemimpinan.
Dalam mengarungi samudera kehidupan ini, pernahkan kita menghitung berapa kata yang telah terucap dalam satu hari, satu minggu, satu bulan dan seterusnya? Saya sangat yakin, kita tidak pernah menghitungnya. Kalaupun kita ingin menghitungnya, mungkin tidak sanggup. Lagi pula untuk apa?
Rangkaian kata-kata yang menjadi kalimat-kalimat juga tidak terhitung lagi sudah berapa yang pernah kita ucapkan. Dalam pembica-raaan pribadi, dengan teman, dengan orang tua, dengan anak-istri, pembicaraan bisnis dengan rekan kerja, bawahan, atasan dan rekanan perusahaan, langganan dan masih banyak lagi. Sebagian besar terutama bagian-bagian penting yang menguntungkan untuk diri kita, pasti kita masih ingat.
Beberapa kalimat merupakan janji. Janji yang diucapkan kita untuk orang lain. Atau ucapan orang lain yang berjanji sesuatu untuk kita. Janji adalah hutang, oleh karena ini merupakan
urusan hutang-piutang, maka harus diingat dan bahkan dicatat….tanyakan pada akuntan anda. Sebagian orang mencatatnya dalam buku harian.
Dari sejumlah janji itu, mana yang dilaksana-kan? Yang mana yang sudah ditindak-lanjuti? Hati-hati! Terutama janji kita pada orang lain.
Harold S. Green mengatakan ini adalah hukum bisnis, tetapi sebenarnya hal ini juga berlaku untuk semua sektor kehidupan. Hanya karena di dalam bisnis umumnya diukur dalam angka, maka dengan mudah dapat kita sadari dan analisa. Paling tidak kita diingatkan.
Tentu anda sering bertemu dengan orang yang begitu pandai berbicara, menjelaskan dengan panjang lebar dan membuat janji-janji indah. Salesman, termasuk pula pejabat yang memimpin departemen/perusahaan kita, atau mungkin kita sendiri yang memimpin suatu perusahaan. Sebenarnya ini adalah talenta, tapi apakah pelaksanaannya sudah sesuai dengan yang diharapkan? Diantaranya tentu ada yang masih berhutang pada anda bukan? Atau bahkan mungkin sebaliknya,…. tanpa anda sadari?
Walaupun bukan satu-satunya, indikator yang paling mudah untuk dilihat adalah hasil akhir (bottom line figure). Lihatlah hasil anda sendiri, perusahaan atau departemen yang anda pimpin. Itulah kenyataannya! ***
Subscribe to:
Posts (Atom)